Peristiwa

20 Tahun Komar Hidup Bersama Sampah

initasik.com, peristiwa | Setiap hari, sejak dua puluh tahun lalu, Komar hidup bersama sampah. Mencari sesuatu yang bisa dijual dari tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ciangir, Tamansari, Kota Tasikmalaya.

Saat truk pengangkut sampah datang, kakek ini berlari bersama pemulung lainnya untuk berlomba mendapatkan sampah yang dianggap berharga. Dengan berbekal karung lusuh dan sebuah cuiran yang terbuat dari besi bekas, ia mencari sesuatu dari sampah, mulai pagi hingga petang.

Setiap harinya, di TPA ini ada kurang lebih lima puluh truk yang datang secara bergantian. Komar mengaku menjadi pemulung sampah karena tidak punya keahlian lain lagi, sementara perut lapat tak bisa diajak kompromi.

Ada dua macam sampah yang dicari setiap harinya, yaitu sampah plastik dan sampah kertas. Dari kedua jenis sampah itu, plastik nilai jualnya jauh lebih tinggi ketimbang sampah kertas. Untuk sampah bekas miniman kemasan, harga per kilogramnya Rp 2.000. Sedangkan sampah kertas hanya Rp 300.

Di tengah kondisi fisik yang renta itu, dalam sehari ia hanya mampu mengumpulkan dua sampai tiga karung sampah saja. “Tilu karung teh aya lima rebu, aya sapuluh rebu,” ujar Komar.

Ia mengaku masih mencari sampah lantaran punya kewajiban untuk menghidupi istrinya yang saat ini sedang sakit. Sementara ketujuh anaknya punya tanggungan masing-masing. Semuanya sudah menikah. [Eri]