Inspirasi

Tunda Sidang Skripsi, Yayang Chrisno Tuai Prestasi di Kesenian Tari

initasik.com, inspirasi | Jika saja Chris Novika Supardi tidak menunda siding skripsinya, mungkin Sanggar Tari Dewa Motekar Production (DM Pro) tidak terbentuk. Didirikan sejak bulan November 2015, DM Pro sudah memiliki banyak prestasi di dalam dan luar negeri. Diantaranya adalah menjadi bintang tamu dalam peresmian rumah budaya di Sulawesi Selatan.

Kala itu Desember 2015, DM Pro yang baru sebulan didirikan sudah memiliki job pertamanya yang membanggakan. “Mereka hanya mengundang satu provinsi di Jawa Barat dan menunjuk DM Pro sebagai bintang tamu rumah budaya yang diresmikan langsung oleh Gubernur Sulawesi Selatan,” katanya yang akrab disapa Yayang Chrisno ini.

Tidak hanya itu, awal Mei 2017 lalu pun Chris terlibat dalam sebuah misi kebudayaan di Filipina mewakili Indonesia. “Saya sudah menjalankan misi-misi kebudayaan khususnya di bidang tari ke beberapa negara seperti ke Korea Selatan dan Thailand. Januari 2018 nanti pun sudah ada undangan untuk tampil di Thailand. Saya membawa sekitar 24 nonoman DM Pro,” ujar pria kelahiran November 1992 tersebut.

Masih teringat dalam benaknya awal-awal mendirikan DM Pro. Tahun 2015 lalu, pria yang masih tercatat sebagai mahasiswa UPI Bandung jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini sudah terdaftar untuk mengikuti siding skripsi. “Ada jeda 3 bulan, saya tertarik untuk ikut Mojang Jajaka Kota Tasik dan mendapatkan predikat sebagai jajaka motekar. Waktu itu banyak nonoman yang mendorong saya untuk membangun sanggar,” jelasnya.

Karena proses pembuatan sanggar beserta segala detailnya memerlukan dedikasi waktu dan tenaga, akhirnya Chris harus rela dirinya tidak jadi ikut siding skripsi tahun itu. “Proses dari akhir November sampai awal Januari, terbentuklah Sanggar Tari Dewa Motekar. Bentuknya sebuah production dimana tidak hanya sanggar tari saja, tapi juga ada penyewaan kostum dan jasa make up,” kata Chris.

Diakuinya, sanggar yang kini sudah memiliki murid 172 orang tersebut merupakan wadah baginya untuk menyalurkan hobi. Meski sidang skripsinya ditahan dua tahun karena dia fokus mengembangkan DM Pro, namun Chris tidak menyesal. “DM Pro punya masa depan yang cerah. Kami mengajak banyak orang untuk lebih mencintai seni tari nusantara khususnya jawa barat, juga mengajak para nonoman untuk merasakan tampil dalam undangan-undangan dari kedutaan besar Indonesia di beberapa negara,” katanya.

Lalu dari mana Chris belajar menari? “Saya ikut UKM di UPI yang merupakan wadah bagi mahasiswa yang mencintai seni tari nusantara. Belajar tari sejak tahun 2011 dan basic saya tari saman,” jelasnya.

Tahun 2013 diadakan seleksi untuk misi kebudayaan di Thailand. Dari 3000 mahasiswa yang ikut seleksi, hanya 17 orang yang akan dipilih. “Sejak SMP saya memang punya mimpi untuk ke luar negeri dengan prestasi seperti ini. Sebelum seleksi, saya latihan sangat keras. Lihat di berbagai referensi berupa audio visual. Dari sana saya belajar lebih giat tari saman, tari piring, tari topeng, dan lain-lain,” katanya.

Kerja kerasnya membuahkan hasil. Dia merupakan satu dari empat penari laki-laki yang terpilih untuk ikut misi kebudayaan di Thailand. “Dari sana, keinginan untuk menseriusi hobi tari dimulai,” pungkas Chris.[kl]