Seni Budaya

Ada Muatan Akhlak dalam Setiap Dongeng Anak

Kabupaten Tasik | Dulu, menuturkan dongeng-dongeng kepada anak-anak menjelang tidur menjadi kebiasaan. Tradisi. Dari mendengar dongeng, tak sedikit yang tumbuh menjadi pribadi menyenangkan, memiliki kebijaksanaan dan penghikmahan dalam menjalani hidupnya.

Namun, di era modern ini, mendongeng seolah terpenjara. Direndahkan. Disebut khayalan atau rekaan yang sebenarnya tidak pernah ada. Padahal, “Bukan salah atau benarnya, tapi maknanya, nilanya, dan hikmah dari dongeng tersebut,” terang Nurdin Effis Alamsyah, kala berbincang dengan initasik.com, belum lama ini.  Ia seorang seniman. Pegiat teater. Pengajar Bahasa Sunda di beberapa sekolah.

Menurutnya, semua kisah yang didongengkan selalu mengandung muatan keteladanan akhlak yang baik. Misalnya terkait daya juang, keindahan silaturahmi, gotong royong, kemanusiaan dan lain-lain.

“Tidak sedikit anak yang tadinya pendiam, setelahnya ikutan ekskul mendongeng ini menjadi berani untuk berbicara di depan orang banyak. Contohnya Syamsul. Perawakannya kecil. Setiap hari Jumat, dia selalu memimpin pengajian anak-anak yang lain,” terangnya saat ditemui usai mengajarkan dongeng di SDN 2 Dawagung, Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya.

Ia menilai, direndahkannya dongeng, salah satu cara untuk memisahkan atau memutuskan sejarah bangsa. Menghapus apa yang pernah dicapai orang terdahulu. Untuk itu, ia tergerak untuk menghidupkan kembali dongeng.

“Kami fokus mengkisahkan dongeng. Soalnya saat ini dongeng sudah kurang diminati dan tidak lagi dibudayakan. Di SD ini, baru berjalan sekitar empat tahun. Sekalian mengasuh anak-anak. Sambil bermain,” tandasnya. initasik.com|syamil

Komentari

komentar