Kus | initasik.com
Edukasi

Ada Replika Robot Transformers di Kemah Akbar Pesantren Al-Idrisiyyah

initasik.com, edukasi | Ada robot transformers di kemah akbar Pesantren Al-Idrisiyyah, di Lapangan Gunung Kialir, Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya. Replika itu terbuat dari 200 batang bambu dan 1.000 meter tali pramuka. Dipasang di pintu masuk area perkemahan, sehingga mengundang perhatian warga. Ada di antara mereka yang swafoto.

Menurut Ketua Panitia Kemah Akbar Pesantren Al Idrisiyyah, Asep Saepul Milah, pembuatan robot bambu tersebut merupakan kreativitas siswa yang berawal dari pembicaraan siswa kelas 12. Kemudian mengajak adik-adik kelasnya untuk mewujudkannya. Lama pengerjaan robot itu kurang lebih empat hari.

“Kami pembina hanya mengawasi anak-anak yang mengerjakan. Tidak ada campur tangan, karena memang kami ingin memberikan pelajaran kepada mereka berkenaan dengan kedisiplinan, kerja sama, serta saling menghargai satu sama lain. Dengan tim yang kompak dan bagus, maka apapun bisa diwujudkan menjadi salah satu kreativitas dengan hasil karya yang memuaskan dan tidak terduga,” tutur Asep.

Terkait kemah akbar, ia menandaskan, semua siswa dituntut untuk mengondisikan keadaan, bukan dikondisikan keadaan. Di tengah-tengah situasi darurat, sulit menemukan air bersih, tidur beralaskan tikar, suhu yang panas, hingga harus memasak ketika ingin makan, sudah pasti dialami oleh seluruh anak-anak yang melaksanakan kegiatan kemah.

Namun itu menempa mereka agar bisa lebih kreatif menghadapi berbagai situasi dan tetap melaksanakan kewajibannya, termasuk beribadah malam. “Dengan keadaan seperti ini, salat lima waktu, tahajud dan ibadah lainnya tetap anak-anak laksanakan. Berjamaah di tengah lapang. Setelah salat Subuh pun tetap digelar halaqah seperti biasa dilakukan di pesantren. Intinya, apapun keadaannya mereka tetap disiplin dalam mengerjakan ibadah,” paparnya.

Sedikitnya, 550 siswa dari tingkat SMP dan SMA, 218 di antaranya merupakan siswa baru. Kemah Akbar yang keempat itu dimulai sejak Senin s.d. Rabu, 4 September s.d. 6 September 2017.

Selain pelantikan kepramukaan tingkat penegak dan penggalang, dalam kemah itu juga digelar IIBS Sport Festival yang mengasah kreativitas siswa, Sport Up Festival berupa pentas seni, dan akan ditutup dengan pemberian bantuan kepada anak yatim piatu, jompo, serta janda tua yang merupakan warga sekitar.

“Dalam pelaksanaan kegiatan kemah ini kepanitiaannya melibatkan anak-anak, dari mulai budgeting, konsep acara dan lain sebagainya. Mereka dituntut mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di sekolah, termasuk cara berkomunikasi dengan masyarakat. Mereka harus menjadi orang yang tangguh dan siap ketika keluar dari pesantren,” beber Asep. [Kus]