Peristiwa

Ada Sarang Prostitusi di Dekat Kantor Satpol PP Kota Tasik

initasik.com, peristiwa | Cilembang, pukul setengah sembilan malam. Jalanan tampak sepi. Gelap pula. Namun, ada satu titik yang terlihat banyak orang. Letaknya tak jauh dari kantor Satpol PP Kota Tasikmalaya. Tepatnya di jalan dua arah.

Banyak wanita yang berkerumun di sebuah warung kecil. Penampilan mereka tak biasa. Sebagian besar memakai pakaian ketat dengan bedak menor menutupi wajahnya. Sebagian lainnya memakai rok pendek. Jumlahnya kurang lebih tujuh orang. Dari ke tujuh wanita itu, tiga di antaranya masih muda. Usianya masih belasan tahun.

“Mampir dulu, Pak,” ujar seorang wanita berambut sebahu. Begitu ajakan mereka kepada hampir setiap pengendara yang lewat.

Waktu sudah mulai memasuki tengah malam. Semakin sepi. Namun tidak dengan suasana di warung kopi itu. Tetap ramai. Lewat tengah malam, seorang pengendara kendaraan roda dua merapat ke pinggir warung. Duduk di bangku kayu ditemani seorang wanita muda. Tak berselang lama, mereka beranjak pergi. Dibuntuti dari belakang, ternyata mereka masuk ke sebuah hotel. Tempatnya tak jauh dari sana.

Saat dicek siang hari, di belakang warung kopi itu ada tanah kosong yang lumayan luas. Yang mengagetkan, di sana ada beberapa bungkus alat kontrasepsi. “Banyak. Hampir tiap malam nongkrong di sini. Tapi ngga semuanya wanita, ada juga wanita jadi-jadian,” aku pemilik warung yang enggan menyebutkan nama.

Ia menuturkan, para PSK yang semalam ada di sekitar jalan itu baru sebagian. Masih banyak yang tidak mangkal. Beberapa PSK yang memiliki kemolekan tubuh jarang mau mangkal di pinggiran jalan.

Biasanya, mereka dipesan melalui telepon. “Aa mau pesan? Ada yang bagus. Namanya Nitnit. Kalau mau saya telepon,” ujarnya menawarkan jasa.

Menurutnya, harga yang dipatok oleh para PSK biasanya berkisar di angka Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu. Itu termasuk sewa kamar. Ada dua hotel yang biasa digunakan, yaitu P dan W. “Di sana kalau ngamar tidak perlu pakai KTP segala macam. Biasanya para PSK sudah punya kamar sendiri-sendiri,” ungkapnya.

Saat ditanya soal halaman belakang warung yang banyak bungkus bekas alat kontrasepsi, ia berdalih, semua bekas pemakaian yang bungkusnya di buang kesana. Menurutnya, saat malam hari tak ada aktivitas apapun di belakang warungnya itu.

Ketika diminta nomor kontak salah seorang PSK, ia tidak memberinya. Menurutnya, tak sembarang orang boleh memiliki nomor para PSK, termasuk pelanggan. Terkecuali sudah meminta izin kepada germo yang biasa dipanggil mami.

Selain dijadikan tempat mangkal PSK, warung kopi tersebut sering dipakai tempat menenggak minuman keras. Sebelum ngamar, sebagian PSK akan minum-minuman keras terlebih dahulu. Untuk bisa membeli minuman haram itu cukup mudah. Ada toko jamu yang lokasinya tak jauh dari sana.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kota Tasikmalaya, Budi Rachman, mengatakan, pihaknya selaku melaksanakan operasi secara rutin. Bahkan tiap malam. Saat ditanya tentang keberadaan para PSK di warung kopi yang lokasinya dekat dengan kantor Satpol PP, Budi mengatakan, mereka selalu kucing-kucingan saat akan dilakukan operasi.

“Kita pun armadanya terbatas. Saat melakukan operasi, kita hanya punya satu truk. Sedangkan dalam operasi kan kita mobile, dari satu titik ke titik lainnya. Saat kita razia di sini, yang di sana lari. Jadi kucing-kucingan,” dalihnya, Rabu, 1 Agustus 2018. [Eri]