Ekbis

Adakah Unsur Mistis di Balik Usaha Ketok “Magic”?

initasik.com, otomotif | Pernahkah terlintas pertanyaan, kenapa semua usaha ketok magic selalu tertutup? Di luar, kita tidak bisa melihat di dalam ada apa, selain pintu gerbang yang kebanyakannya terbuat dari seng bertuliskan “Ketok Magic”.

Adakah unsur mistis di balik usaha ketok magic, sehingga harus tertutup rapat? Apakah magic di sana berarti sulap dan mengandung sihir? “Tidak. Kalau saya bisa menggunakan yang mistik-mistik, saya tidak bakalan kerja seperti ini,” jawab Sigit Setiawan, 39 tahun, ahli ketok magic, saat ditemui di bengkelnya, Jl. Ir.H. Juanda, Cilembang, Kota Tasikmalaya.

Ia berdalih, kenapa selalu tertutup, karena sejak dulu seperti itu. Khawatir ilmunya ditiru. Jangankan orang lain, pemilik mobilnya pun kerap disuruh menunggu di luar saat mobilnya diperbaiki.

Sigit mengaku, sudah membuka bengkel ketok magic sendiri sejak 1994. Sebelumnya ia ikut sama kakaknya pada 1990. Di sanalah ia awal mula kenal dengan ketok magic. Di kampungnya sendiri, Blitar, Jawa Timur, usaha itu namanya lebih familiar disebut Kenteng Teter.

Selain pintu gerbangnya selalu tertutup rapat, keunikan lain dari usaha ketok magic adalah peralatan yang digunakan. Kebanyakan buatan sendiri. Produk pabrik yang dijual di toko hanya pelengkap.

“Kemampuan ini turun-temurun. Saya bingung juga kalau diminta jelaskan ketok magic. Intinya terkait cara. Mengandalkan teknik. Coba lihat, alat-alatnya semuanya dari besi. Cara kerjanya cepat. Bisa ditunggu,” tuturnya.

Bengkel ketok magic, lanjut dia, hampir kebanyakan dari Blitar. Masih punya ikatan saudara. Misalnya Bambang, 25 tahun. Ia adik Sigit. Sudah lima tahun bekerja di sana. Niatnya belajar.

Kendati sudah lima tahun belajar ke Sigit, ia mengaku belum menguasai teknik ketok magic dengan baik. Memerlukan kehati-hatian dan ketepatan dalam memukul. “Saya belum berani kalau memperbaiki mobil yang dari dealer. Takut tergores catnya. Saya mah memperbaiki yang sudah rusak parah saja,” ujarnya.

Ditanya soal jasa servis, Sigit menjawab, itu tergantung tingkat kerusakannya. Paling murah Rp 100 ribu atau Rp 150 ribu. “Kelebihan servis bodi mobil di kami ini tidak dipanasi. Jadinya tidak merusak cat,” sebutnya. [syaepul]

Komentari

komentar