Jay | initasik.com
Humaniora

Aep “Deet” Saepudin; Keliling ke 33 Negara, Tak Dihargai di Kampung Sendiri

initasik.com, humaniora | Sudah puluhan sertifikat dan penghargaan diterima Aep Saepudin. Terbaru, April 2017, Presiden Joko Widodo menganugerahkan Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan Bidang Ketahanan Pangan dan Pertanian kepada pria yang lebih dikenal dengan nama Aep Deet itu.

Warga Kampung Citeureup, Desa Sukapada, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya itu diganjar penghargaan, karena berhasil menemukan penanaman padi organik secara tandur tunggal dangkal yang menghasilkan lebih banyak anakan, lebih produktif, dan lebih banyak bulir per malai dibandingkan dengan tandur padi biasa.

Sampai sekarang ada sekitar 40 lembar sertifikat, piagam, hingga surat keterangan yang didapatnya, mulai dari pemkab sampai pemerintah luar negeri. Namun, dari 40 penghargaan itu hanya tersisa sekitar 12 lembar.

“Yang lainnya dibakar oleh istri saya. Kata istri tidak ada gunanya. Memang dari pemerintah tidak ada perhatian lebih. Hanya memberikan sertifikat yang tidak bisa dipakai buat kebutuhan sehari-hari,” tutur suami Dewi Fatimah dan ayah tiga putra itu.

Jauh berbeda dengan saat ia di Malaysia. Kehidupannya terjamin. Sebulan digaji antara Rp 10 juta. Uang yang sangat besar, apalagi bila dibandingkan dengan buruh tani di kampungnya yang hanya Rp 20 ribu.

Aep menceritakan, pada 2009 lalu, ia diminta oleh salah seorang pejabat penting di Kelantan, Malaysia, untuk menerapkan pola tandur tunggal dangkal di negeri jiran itu. Salah satu karya tani selama empat tahun berada di Malaysia, ia berhasil menumbuhkan satu butir benih menjadi 250 anakan setinggi dua meter.

“Waktu itu geger. Bagaimana bisa dari satu butir benih bisa jadi 250 pohon anakan dan tingginya tak biasa? Tapi memang begitu faktanya. Oleh mereka (Malaysia) pohon padi itu sampai diawetkan dan dipajang, karena bangganya,” ucap Aep.

Lantaran keberhasilannya itu, Aep pernah keliling ke 33 negara untuk berbagi ilmu seputar tandur tunggal dangkal. Ia pernah ke Myanmar, Kamboja, Uzbekistan, Burma, Laos, Vietnam, India, Bangladesh, Cina, Jepang, Amerika Serikat dan negara-negara lainnya. Misinya hanya satu: bagi-bagi ilmu tandur tunggal dangkal.

Mirisnya, ia mengorbit seperti itu saat berada di Malaysia. Kendati tengah betah kerja di sana, Aep harus pulang ke Indonesia, karena disebut pengkhianat bangsa oleh salah seorang tokoh Jawa Barat. Padahal, keberangkatannya ke Malaysia karena terpaksa. Di kampung halamannya sendiri, Kabupaten Tasikmalaya, ia tidak dihargai.

“Hanya dijanjikan mau diberi ini atau itu, tapi bohong terus. Setelah diberi penghargaan oleh presiden, pihak Pemkab Tasikmalaya berjanji akan memberi motor dan peralatan tani, sampai sekarang tidak ada buktinya. Sempat juga ditagih kepada kepala Dinas Pertanian, tapi katanya ada motor bekas,” sebut Aep tertawa.

Berguru pada “jajagoan”

Sistem tandur tunggal dangkal yang ditemukan Aep bukan didapat dalam waktu sebentar. Ia menghabiskan waktu empat tahun untuk “penelitian” dan uji coba. Awalnya ia melihat gulma yang dikenal dengan nama jajagoan.

Tanaman itu tumbuh dengan sendirinya di sekitar padi. Tidak pernah ditanam, tapi tumbuhnya luar biasa. Tinggi dan akarnya menghujam ke dalam. Aep heran. Bagaimana bisa jajagoan bisa tumbuh dan berkembang seperti itu?

“Saya bukan sarjana pertanian. Tidak punya ilmu apapun. Hanya lahir dari keluarga petani yang penasaran saat melihat jajagoan itu. Lalu saya melakukan penelitian untuk memastikan apakah benar tanaman pengganggu makanan padi itu tumbuh subur karena bijinya satu dan tumbuh di permukaan?” tutur Aep.

Maka dicobalah jajagoan itu ditanam dalam dengan jumlah banyak sekaligus. Ternyata pertumbuhannya berbeda dari biasanya. Lambat, mirip padi. Percobaan berbeda ia terapkan pada benih padi. Ditanam dangkal dengan satu benih. Hasilnya di luar dugaan.

Padi tersebut tumbuh berbeda. Tinggi dan mengeluarkan banyak anakan. “Akhirnya saya yakin, tanam padi itu harus dangkal. Benih tidak terikat tanah, sehingga akar bisa mencengkram panjang ke bawah dan pohon jadi tinggi. Kalau pohon tinggi, malainya panjang dan bulirnya banyak,” papar Aep.

Setelah empat tahun melakukan uji coba dengan berbagai varietas padi dan membuahkan hasil yang sama, ia mulai berani mengeksposnya ke teman-temannya. Berbagi ilmu di forum-forum petani, sehingga diminta jadi pemateri di banyak tempat. Sejak itulah namanya lebih dikenal dengan sebutan Aep Deet. Dalam bahasa Sunda, deet artinya dangkal. [Jay]