Olahraga

Agar Persitas Trengginas, Basuki Rahmat: Butuh Keberpihakan Pemerintah


initasik.com, olahraga | Saat kasta persebakbolaan di Indonesia berformat liga super dan divisi, Persitas Tasikmalaya berada satu divisi dengan PSGC Ciamis. Sama-sama di Divisi 3. Tapi kini, keduanya berbeda kelas. PSGC melesat. Ada di Liga 2. Persitas jalan di tempat. Masih Liga 3.

Ketua Umum Persitas, Dr. Basuki Rahmat, menilai, hal itu disebabkan keberpihakan pemerintah daerah yang berbeda. Pemkab Ciamis memberi perhatian lebih pada sepakbola, sementara Pemkab Tasikmalaya tidak.

“Coba lihat stadion Galuh Ciamis. Itu dibangun dengan standar internasional. Bandingkan dengan Kabupaten Tasik. Sampai saat ini kita belum punya stadion sendiri. Stadion yang ada sedang dibangun. Mudah-mudahan segera selesai. Harus dipercepat pembangunannya,” tutur Basuki.

Lantaran belum punya stadion, tim Persitas harus pindah-pindah untuk latihan sepakbola. Menyewa tempat orang. Sampai sekarang masih begitu. Padahal, Agustus nanti mulai mengikuti kompetisi liga 3 untuk level Jawa Barat.

“Jangan tanya target juara atau tidak, bisa mengikuti kompetisi sampai selesai saja sudah bagus. Kita tidak bicara menang atau kalah, tapi apakah nanti Persitas bisa melanjutkan pertandingan itu sampai tuntas, mengingat anggaran yang sangat terbatas?” sebutnya.

Idealnya Pemkab Tasikmalaya menyediakan anggaran minimal Rp 5 miliar untuk mengikuti kompetisi dan pembinaan, mulai rekrut pemain sampai latihan. Sekarang, bantuan dari pemkab kurang dari Rp 500 juta.

Ia menyebutkan, dalam Surat Edaran Mendagri Nomor 978/753/SJ tanggal 6 Februari 2017, dijelaskan, pemerintah daerah dapat menyediakan anggaran dalam APBD yang dijabarkan dalam bentuk program dan kegiatan pada OPD yang secara fungsional ada kaitannya dengan olahraga dan atau dalam bentuk hibah kepada lembaga di bidang keolahragaan.

“Butuh keberpihakan pemerintah. Ujung-ujungnya kita butuh keberpihakan pemerintah. Keluarkan APBD yang memadai untuk pembangunan infrastruktur olahraga dan biaya kompetisinya,” tandas Basuki.

Menurutnya, jika memang pemerintah daerah punya keberpihakan pada perkembangan sepakbola, dukungan anggaran yang memadai mutlak dikeluarkan. Selain itu, gelar kompetisi rutin di setiap kecamatan.

“Prestasi itu tidak bisa didapat dengan instan. Perlu proses melalui pembinaan dan kompetisi. Sekarang, bagaimana kita bisa menyaring sumber daya yang punya kemampuan bagus kalau tidak ada kompetisi yang rutin diselenggarakan? Kompetisi di tiap kecamatan itu tidak sulit Tinggal ada kemauan dari pemerintah daerah. Buat kebijakan yang berpihak,” paparnya.

Disinggung soal sponsor, ia menerangkan, jarang ada perusahaan yang mau memodali klub sepakbola yang tidak memiliki nilai jual. Agar bisa punya nilai jual, prestasi mesti dinomorsatukan.

“Bagaimanapun, dukungan anggaran sangat dibutuhkan. Dengan anggaran yang banyak, saya bisa membeli pemain bagus. Dengan pemain bagus, kita punya peluang besar untuk berprestasi,” tandasnya, seraya menyebutkan, saat ini pemain Persitas didominasi pemain lokal. Dari 24 pemain, 19 pemain merupakan putra daerah. Hanya lima yang berasal dari luar Tasik. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?