Peristiwa

Akal-akalan Aay Soal “Streaming” ATCS

Kota Tasik | Kamis, 16 Oktober 2014, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan meresmikan Area Traffic Control System (ATCS) Dishubkominfo Kota Tasikmalaya. Namun, baru berjalan kurang dari empat bulan, proyek senilai Rp 1,9 miliar itu mulai ngadat.

Masyarakat tidak bisa mengakses “live streaming (player)”; salah satu menu yang ada dalam atcs.tasikmalayakota.go.id. Bila menu itu diklik, yang muncul hanya layar hitam dengan tulisan server not found. Kenapa?

Kepala Dishubkominfo Kota Tasikmalaya, Aay Z. Dahlan, berdalih, tidak munculnya tayangan dalam menu “live streaming (player)” itu lantaran pelayanan internetnya mau pindah dari kompleks perkantoran ke kantor LPSE di Dishubkominfo. Suplai internet, begitu dia menyebutnya, sedang terganggu.

“Itu kan disuplai dari LPSE (Kota Tasikmalaya) yang berada di kompleks perkantoran. Sekarang, kantor LPSEnya sedang persiapan pindah kantor (ke kompleks Dishub). Jadi suplai internetnya sedang dalam masalah,” ujarnya usai mengikuti acara di car free day, Minggu, 8 Februari 2015.

Herannya, menu lain dalam laman tersebut masih bisa diakses. Jika memang sedang ada gangguan jaringan internet, semestinya halaman situs tersebut tidak bisa dibuka. Ada empat menu utama yang disajikan: Beranda, Tentang ATCS, Live Streaming (Map), dan Live Streaming (Player). Tiga menu pertama bisa dibuka, sedangkan menu terakhir tidak. Sebenarnya, tulisan dalam laman tersebut bukan “streaming”, melainkan streming. Kurang huruf a.

Aay pernah menyebutkan, pihaknya berencana memasang kamera pengawas (CCTV) di 12 titik, seperti di simpang Masjid Agung, Rancabango, Nagarawangi, Padayungan, Cisumur dan tempat lainnya. Sekarang baru di tiga titik, yaitu Cimulu, Jati, dan Mitrabatik. Untuk memasang di semua titik, perlu anggaran total Rp 7 miliar.

Terpisah, Adi Sumaryadi, praktisi IT dari Bandung, punya penilaian lain. Menurutnya, streaming yang ada di atcs.tasikmalayakota.go.id punya beberapa instrumen. Pertama, CCTV (biasanya berbentuk IP kamera) yang dipasang di titik-titk tertentu. Kedua, ada encoder yang berfungsi untuk memproses gambar dari CCTV, kemudian dikirim ke server streaming. Ketiga, server streaming. Server itulah yang bisa dilihat banyak orang.

“Dari IP kamera ke encoder bisa memakai jaringan lokal milik pemda. Kemudian, dari encoder ke server menggunakan internet, kecuali servernya dekat dengan encoder. Nah, dari internet itulah bisa melihat streaming ke server. Masalahnya, software streaming server punya ATCS itu sekarang mati. Melihat dari port yang digunakan untuk streaming, server streaming menggunakan aplikasi Wowza Media Server,” jelasnya.

Di ATCS itu, lanjut Adi, server streaming dengan web berada dalam satu server. Itu artinya tidak ada masalah dengan server dan masih bisa di “ping”. Ia menduga, tidak jalannya streaming ATCS Dishubkominfo Kota Tasikmalaya itu bukan karena gangguan jaringan.

“Kemungkinan terbesar wowza (aplikasi streaming server) di ATCS tersebut padam. Namun, andaipun menyala tetap tidak akan menampilkan gambar jika tidak ada kiriman gambar dari CCTV melalui encoder ke streaming server. Itu bisa disebabkan jaringan putus dari IP camera encoder atau encoder ke streaming server. Matinya wowza bisa jadi karena service berhenti, karena tidak terkontrol. Bisa juga lisensi berbayarnya habis, karena wowza sekarang menerapkan model lisensi baru. Kalau tidak diperpanjang, wowza itu padam,” paparnya. initasik.com|ashani

Komentari

komentar