Syaepul | initasik.com
Etalase Sentra Industri

Alat Musik Rebana dan Marawis Masih Diminati Pasar

initasik.com, etalase | Kerajinan alat musik rebana dan marawis di Kampung Cibodas Girang, Desa Mekarwangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, terus bergeliat. Alat musik yang terbuat dari kayu dan kulit ternak itu masih diminati pasar.

“Untuk alat musik marawis paling minim yang pesan per bulannya 15 set. Kalau rebana 20 set. Untuk pemasarannya di Tasik, Garut, Bandung, Bogor, Karawang, Jakarta, dan pernah ke Brunei Darussalam juga, tapi tidak berlanjut. Ya, omzet paling sedikit Rp 40 jutaan,” ungkap Fauzi Khaeru Wafa, 44 tahun, pengusaha alat musik rebana dan marawis, saat ditemui di rumahnya.

Menurutnya, produk yang dihasilkannya lebih bervariatif dibanding buatan Jawa Tengah. Soalnya, selain yang model biasa, juga ada yang bermodel batik dan ukir. “Awalnya kan saya melihat dulu prodak dari Jawa. Setelah dilihat-lihat, produknya monoton. Hanya gitu-gitu saja. Tidak ada inovasi,” ujar suami Pipih Apipah Musyarofah itu.

Beranjak dari sana, Fauzi semakin terpacu untuk memproduksi kedua alat musik yang kental dengan nuansa Islaminya itu. Apalagi ia ingin memberdayakan masyarakat. Membuka lowongan kerja bagi warga sekitar.

“Alhamdulillah, ngeureuyeuh. Produksi teus dilakukan walau penjualan sedang kurang. Membuat rebana atau marawis ini berbeda dengan usaha konveksi. Tidak musiman. Kondisinya selalu stabil. Tapi tetap ada bulan-bulan tertentu yang pesanan barangnya meningkat, yaitu Rajab, Lebaran, jeung Mulud.

Adapun untuk harga satu set alat musik rebana adalah Rp 1.000.000. Kalau satuan mulai Rp 70.000 sampai Rp 300.000. Sedangkan harga satu set alat musik marawis Rp 1.700.000 bermotif biasa, Rp 2.200.000 sampai Rp 2.500.000 untuk motif batik, dan Rp 3.000.000 bermotif ukir. [Syaepul]

Komentari

komentar

Komentari

Komentari