Seni Budaya

Alihema Band; Suarakan Keadilan Lewat Musik

Kota Tasik | Musik metal, oleh sebagian orang dinilai jelek. Mereka sering mengidentikkan metal dengan satanisme dan kegelapan. Namun, Alihema Band memiliki pandangan bahwa musik yang bergenre metal tersebut bisa dijadikan jalan untuk dakwah dalam menyuarakan kebenaran dan keadilan, sekaligus bertujuan mengubah paradigma negatif di kalangan masyarakat.

“Berdirinya grup kami ini dilatari dengan masih terjadinya penindasan dan  genosida terhadap saudara-saudara kami, dan kami merasa terpanggil untuk  menyuarakannya,” kata Erik Supriadi, vokalis Alihema.

Menurut Erik, Alihema akan selalu concern dalam menyuarakan perlawanan terhadap penindasan, khususnya bagi negara Palestina. Hal tersebut, diyakininya bisa membuka pola pikir para pendengar yang dapat membawa perubahan.

”Penindasan, baik dari segi kesamaan Tauhid atau dari sisi kemanusian yang dilakukan oleh sebuah organisasi teror, seperti Zionis. Harapannya, semoga para pendengar musik kami, bisa memahami subtansi dari pembukaan UUD 1945. Yang isinya berhubungan dengan kemerdekaan merupakan hak bagi semua bangsa,” kata pria yang juga pendidik itu.

Pertemuan rutin di luar waktu latihan, menjadi salah satu upaya Alihema Band dalam menjaga solideritas antarpersonel. Seperti kegiatan pengajian dan menonton film bersama yang dapat memotivasi untuk adanya perubahan berpikir. Alihema termotivasi oleh band yang mengusung aliran progresif.

“Kami pernah manggung di Intermilan Comunity Fest Band, dan pernah juga diundang oleh kedutaan besar Indonesia di Singapura. Ketika kami tampil, apresiasi penonton sangat luar biasa. Kalau gak percaya, silahkan bisa anda chek di youtube alihema metal jihad distortion,” tambahnya.

Alihema band berdiri pada 2007, beranggota Erik Supriadi (vokalis, guitar), Azis Wildan (bassis), Ede (drumer). Alihema juga memiliki komunitas yang berada dalam bimbingannya, s-quad (save alquds). initasik.com|syamil

Komentari

komentar