Peristiwa

Ambruknya Kolam Renang Dadaha

Kabupaten Tasik | Awal Juni 2015 kemarin, sebagian besar atap di kolam renang Tirta Sukapura ambruk. Kayu-kayu penyangga yang sudah lapuk tak kuat menahan beban di atasnya. Separuh tempat ganti pakaian dan ruangan bekas biliar rata dengan tanah. Yang tersisa hanya genteng dan kayu. Berserak. Dibiarkan begitu saja.

Sisa-sisa kayu yang masih menempel pada tembok pun tak dihiraukan. Sepertinya pengelola melihat itu bukan hal yang memalukan, apalagi mengancam. Dede, pegawai di kolam renang, mengatakan, sebelum runtuh pihaknya sudah menyampaikan kekhawatiran atap itu bakal ambruk. Namun, itu tak digubris pengelola.

Benar saja. Atap kolam renang yang mulai dibuka pada 1985 itu menyerah. Pasrah. Bukan saja pada beratnya beban di atas lapuknya kayu penyangga, tapi juga menyerah pada perkembangan zaman. Pasrah menghadapi persaingan. Sebelum memasuki era 2000-an, kolam renang yang berada di bilangan Dadaha, Kota Tasikmalaya, itu bisa dibilang primadona. Selain kolam renang Gunung Singa yang sudah tutup, dulu hanya ada dua tempat berenang: Sukapura Plasa (kini diganti jadi Tirta Sukapura) dan kolam renang Mangkubumi.

Sekarang, di kota ini ada lebih dari tiga kolam renang dengan fasilitas yang menggoda. Bukan saja sebagai sarana olahraga, tapi juga wahana rekreasi. Kolam renang Dadaha? Dari dulu begitu-begitu saja. Tidak ada yang berubah. Malah sekarang lebih memprihatinkan.

“Iya, kalau dibanding dulu pengunjungnya menurun. Dulu bukan hanya orang Tasik yang ke sini, tapi dari Majenang, Banjar, dan Ciamis juga. Sekarang rata-ratanya dalam sehari ada 75 pengunjung. Harga tiketnya hanya Rp 6.000,” sebut Dede kepada initasik.com, beberapa waktu lalu.

Sejak 2013, sambung Dede, pengelolaanya tidak lagi di tangan swasta. Masa hak guna pakai oleh CV Bintang Yasri sudah habis. Kini dikelola PDAM Tirtasukapura Kabupaten Tasikmalaya. Tanahnya milik PDAM, bangunannya hak Pemkab Tasikmalaya. “Tidak tahu,” jawab Dede saat ditanya kapan atap yang ambruk itu akan dibangun lagi.

Lantaran ambruk, pintu masuk tiket dipindahkan ke sebelah utara. Memanfaatkan pintu masuk yang juga pernah mencatat masa jaya. Di tempat itu, sebelumnya ada tempat resepsi pernikahan, kemudian dijadikan lapang futsal. Tapi kini, semua tinggal kenangan. Akankah kolam renangnya bernasib sama? initasik.com|shan

Komentari

komentar