Peristiwa

Anak Para Pemulung Itu Belajar di Sini

Kota Tasik | Pelan namun pasti, langkah Idah Mahmudah (42) memberdayakan anak-anak putus sekolah, kian terarah. Awalnya ia mesti berjibaku mengambil hati para orangtua yang anak-anaknya hidup di jalanan. Penolakan demi penolakan mesti Idah hadapi. Tapi kini, titik terang mulai terlihat bersinar.

Anak-anak jalanan yang tinggal di Sindangsari (Babakan Jawa), Kel. Panyingkiran, Kec. Indihiang, Kota Tasikmalaya, mulai senang belajar di rumah Idah yang telah disulap menjadi tempat belajar. “Daripada anak-anak itu semakin liar, kami dekati untuk dididik,” ujar Idah kepada initasik.

Di daerah sekitar rumahnya, mayoritas penduduknya bermatapencaharian pemulung, pengemis, atau pengamen. Sejak kecil, anak-anak di daerah itu lebih senang mencari uang ketimbang menuntut ilmu. “Ternyata, bukan hanya anak-anaknya yang buta huruf. Ibu-ibunya pun banyak yang tidak bisa baca latin, apalagi Al-Quran. Selain miskin pengetahuan umum, mereka pun miskin ilmu agama,” sesal suami Adang Rusmana itu.

Kenyataan itu kian menguatkan tekan Idah untuk merangkul mereka. Disela-sela kesibukannya mengajar di salah satu SMK, sejak empat tahun silam Idah mulai melakukan pendekatan dari hati ke hati. “Awalnya saya ajak kaum ibu untuk belajar masak dan keterampilan lainnya,” ujar Idah.

Seiring bergulirnya waktu, kedekatan itu kian terjalin. Tak jarang, mereka suka curhat tentang masalah sehari-hari, bahkan sampai urusan rumah tangga. Mereka pun tak sungkan menitipkan anak-anaknya untuk belajar di rumah Idah. Apalagi, sejak Maret 2010 resmi berdiri pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) Ar-Ridho yang dikuatkan dengan SK No. 420/23/SK-BPPT/2010 Tgl 24 Maret 2010. Dan, sejak Juli 2010 ia membuka kelas kesetaraan (paket A, B, C). “Sasarannya adalah anak-anak jalanan,” sebut Ibu empat orang anak itu.

Dibantu enam pengajar, setiap malam Selasa sampai Kamis Idah telaten mendidik 25 anak yang belajar di kelas paket B. “Sengaja jam belajarnya malam, karena kalau siang hari anak-anak harus cari uang,” kata Idah.

Menurutnya, selain agama, mereka juga diajarkan pelajaran bahasa Inggris, matematika, PPKN, IPA, dan IPS. Untuk mengikis karakter anak jalanan, Idah punya cara unik. “Boleh datang ke sini dengan satu catatan, siapa yang hari ini paling sedikit menggunakan kata anjing atau siapa yang tadi melihat ada minum minuman keras,” ujarnya.

Kendati menggunakan “sisa” waktu mengajarnya, Idah mengaku all out mengelola PKBM yang berada di bawah bendera Yayasan Putri Binangkit itu. “Target kami menyelamatkan generasi penerus bangsa. 20 tahun yang akan datang, generasi di daerah sini harus berubah,” tegasnya penuh semangat. Ke depan, Idah berharap mempunyai gedung serba guna yang bisa digunakan untuk posyandu, RW Siaga, madrasah dan lain-lain. initasik|ashani

Komentari

komentar