Prof. Dadang Sunendar | Jay/initasik.com
Peristiwa

Ancaman Terhadap Bahasa Indonesia tidak Bisa Dipandang Sebelah Mata

initasik.com, peristiwa | Terorisme kerap dipandang sebagai ancaman terhadap keamanan bangsa. Semua pihak sigap menangkalnya. Begitupun pada radikalisme dan paham-paham yang dianggap mengancam ideologi negara.

Tapi, kesigapan serupa tidak terlihat pada nasib bahasa Indonesia. Padahal, kata Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, Prof. Dadang Sunendar, keberadaan bahasa negara sangat penting. Tidak bisa dipandang sebelah mata.

“Persoalan bahasa sering kali dianggap remeh oleh sebagian masyarakat. Padahal, negara ini tidak muncul begitu saja. Ada Sumpah Pemuda yang salah satu di dalamnya menegaskan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan,” tuturnya dalam sosialisasi Pemartabatan Bahasa Negara di Ruang Publik se-Kota Tasikmalaya, di Hotel Horison, Jumat, 11 Agustus 2017.

Menurutnya, ancaman terhadap NKRI ini tidak melulu soal terorisme, radikalisme dan yang lainnya. Meski ancaman itu ada, negara ini punya aparat keamanan seperti TNI. “Hari ini, ancaman terhadap sosial dan budaya, termasuk bahasa di dalamnya, sangat mengkhawatirkan. Kalau ancaman fisik atau ideologi negara, kita punya TNI. Tapi ancaman budaya, terutama bahasa, siapa yang peduli?” tandasnya.

Untuk itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga dan menggunakan bahasa Indonesia dalam interaksi formal dan di ruang-ruang publik. Hotel-hotel atau restoran disarankan lebih menomorsatukan bahasa Indonesia ketimbang bahasa asing dalam pelabelan.

“Penghormatan masyarakat terhadap bahasa Indonesia merupakan sesuatu yang tidak bisa kita tawar. Hampir 72 tahun kita merdeka, ternyata di ruang publik masih didominasi bahasa asing. Kami mohon bantuan pemerintah daerah untuk mendorong para pengusaha agar lebih mengutamakan bahasa negara. Seringkali kita tidak bangga dengan yang kita miliki, termasuk bahasa,” beber Prof. Dadang.

Menurutnya, di seluruh dunia, ada sekitar 90 persen negara yang bahasa negaranya meminjam dari negara lain, seperti Australia, Selandia, dan Singapura. “Bangsa Indonesia tidak. Kita memiliki bahasa sendiri,” imbuhnya. [Jay]