Ekbis

Andil Bus Damri Stasiun Tasikmalaya Usai Gunung Galunggung Meletus

initasik.com, ekbis | Di era 1970-an hingga sampai tiga dekade berikutnya, bus Damri jadi primadona moda transportasi darat. Menjadi pilihan terfavorit untuk bepergian jauh. Waktu itu, khususnya di Priangan Timur, perusahaan otobus belum meruyak seperti sekarang. Masih sedikit. Apalagi yang membuka trayek antarprovinsi.

Bahkan, saat Gunung Galunggung meletus, 1982, Damri berandil besar dalam memobilisasi warga. Banyak yang memilih berangkat ke luar provinsi. Transmigrasi. “Sejak saat itu Damri semakin dikenal oleh masyarakat Tasikmalaya,” sebut Erma Hermawati, pelaksana Kepegawaian dan Umum Kantor Pemasaran Perum Damri Cabang Bengkulu, saat ditemui initasik.com di di kantornya, Jl. Tarumanagara No. 35, Kota Tasikmalaya.

Ia mengenang, dulu, menjelang pemberangkatan, penumpang sudah berkerumun. Masuk kendaraan sampai berhimpitan. Kursi tak bertuan jarang ditemukan. Selalu penuh. “Kalau dahulu armada bus memang belum banyak,” imbuhnya.

Berbeda dengan sekarang. Persaingan sangat ketat. Perusahaan otobus yang membuka trayek ke luar provinsi sangat banyak. Pelayanan dan harganya pun bersaing. Berlomba memanjakan penumpang. Tak heran, pengguna bus Damri kian berkurang.

Kondisi itu membuat Stasiun Damri Tasikmalaya tinggal kenangan. Sekarang menjadi Kantor Pemasaran Perum Damri Cabang Bengkulu, dan dijadikan tempat memperbaiki kendaraan. “Dahulu berdiri sendiri. Sekitar tahun 2007 terjadi perubahan status. Sekarang, di Tasik ini hanya transit,” ujarnya.

Menurutnya, selain berandil usai Gunung Galunggung meletus, Damri berperan juga di zaman perjuangan. “Kita ikut berperan juga di masa perjuangan. Jadi bus angkutan pejuang. Karena itu, ada kenangan tersendiri bagi mereka yang besar di kalangan pejuang,” ucap Erma.

Masa kejayaan Stasiun Damri Tasikmalaya diceritakan juga Mamat Rahmat. Lelaki berusia 70 tahun yang kini jadi petugas kebersihan di lingkugan Damri itu, menyebutkan, dulu Damri benar-benar menjadi primadona. Sangat diminati warga.

Waktu itu ia menjadi pedagang asongan. Tahu betul bagaimana perkembangan Damri dari masa ke masa. Dulu bisa dibilang penumpang sampai tidak terangkut semua. Sekarang, sehari 12 penumpang sudah termasuk bagus.

“Dulu mah barang bawaan penumpang sampai menumpuk di atas bus. Di dalam, penumpang berdesak-desakan. Sekitar tahun 70-an sampai 80-an,” kata warga Kp. Sukahurip, Desa Sukaraja, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, itu.

Sepengetahuan dia, saat Damri meraja, kompetitor masih sedikit. Yang ada hanya Merdeka dan Aladdin. “Dari dulu kantornya di sini. Tidak pindah sampai sekarang,” kata pria yang sudah bekerja di Damri selama sepuluh tahun itu.

Erma menambahkan, saat ini Kantor Pemasaran Perum Damri Cabang Bengkulu membuka empat trayek, yaitu 1. Tasik – Bandung – Bengkulu, 2. Tasik – Rajabasa (Lampung) – Martapura (Kalimantan Selatan) 3. Balaraja – Tasik – Purworejo – Yogya, dan 4. Balaraja – Tasik – Pangandaran. Harga tiketnya tidak lebih dari Rp 350 ribu. Adapun waktu pemberangkatan pukul tiga sore. [Syaepul]

Komentari

komentar