Peristiwa

Anggota Geng Motor Menangis

Kota Tasik | Penampilan Jn, 24 tahun, lumayan keren. Berkaos merah dan sweater hitam, mengenakan celana jeans, dan pakai sepatu lars. Warga Setiawargi, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, itu mengisi malam Minggu dengan konvoi motor bersama teman-temannya.

Sekitar pukul 11 malam, Sabtu, 14 November 2015, lebih dari 20 motor melintasi Jl. Tentara Pelajar, lalu masuk Jl. Empang. Tapi baru saja belok kiri ke arah Pasar Mambo, kelompok bermotor itu langsung banting stir, belok kanan dan tancap gas.

Sontak, suasana jadi kalang-kabut. Mereka yang rata-rata tidak memakai helm itu takut dihentikan dan diamankan polisi yang saat itu sedang merazia sekelompok orang yang berkumpul di depan Hotel Abadi.

Polisi pun langsung berlari hendak menangkap mereka. Satu di antaranya jatuh di depan cafe, sehingga stang motornya patah. Sebagian polisi mengejar pakai motor. Namun, kelompok bermotor itu sudah melesat jauh. Hanya satu motor yang bisa ditangkap di sekitar Jl. Rumah Sakit. Itupun setelah mereka jatuh, hingga salah seorang di antaranya, Al, luka serius di bagian muka dan dengkul. Sedangkan Jn hanya lecet pundaknya.

Mereka lantas dinaikkan mobil Dalmas. Saat itulah Jn menangis keras. Tangisannya sampai terdengar ke seberang jalan. Mirip anak kecil yang dibentak ibunya. Al, Jn, dan pengendara motor yang jatuh di depan cafe itu langsung dibawa ke Pos Adipura.

“Saya takut digiman-gimanain, Pak,” jawab Jn setelah ditanya alasannya menangis saat di dalam mobil Dalmas. Semula ia mengaku bukan bagian dari kelompok motor yang kabur itu. Namun, setelah didesak ia menyebut nama Kill.

“Itu nama geng motor bukan?” tanya polisi yang mendatanya. Jn mengangguk. Tapi ia berdalih hanya ikut-ikutan konvoi. Jika tidak ikut, diancam dipukuli. Jn pun mengaku sudah minum tuak, sehingga otaknya kurang waras.

Dalam razia tadi malam, polisi pun menggeledah beberapa kios yang sering menjual minuman beralkohol, salah satunya kios di Jl. Ibrahim Adjie. Di kios milik An, 44 tahun, itu polisi mendapat enam botol Anker.

An menyebutkan, satu botol Anker dijualnya Rp 33 ribu. Dari satu botol, untungnya Rp 3.000. Warga Kawali, Ciamis, itu mengaku baru tiga bulan menyimpan dan menjual minuman beralkohol itu, karena dagangan di kiosnya sedang sepi. Sehari, ia biasa menjual Anker lima atau enam botol. initasik.com|shan

Komentari

komentar