Adih Kusnadi | Jay/initasik.com
Peristiwa

Angka Kemiskinan Kota Tasik (Masih) Tertinggi di Jawa Barat

initasik.com, peristiwa | Ada banyak pusat perbelanjaan modern di Kota Tasikmalaya, lengkap dengan tempat karaokean dan sarana hiburan lainnya. Hotel-hotel berbintang juga jumlahnya lebih dari tiga. Bak kacang goreng, ribuan motor baru terjual setiap bulannya.

Namun, di balik semua itu terdapat data yang bertolak belakang. Sampai sekarang, Kota Tasikmalaya masih “juara” dalam kemiskinan. Pada 2016, persentase angkanya tertinggi di Jawa Barat, yaitu 15,60 persen.

Dibanding 2012, persentase tersebut sudah menurun. Semula 18,92 persen. Namun, pada 2015 sempat naik ke angka 16,28, dan turun lagi di 2016. Kesenjangan ekonominya juga termasuk tinggi.

Adih Kusnadi, kasi Statistik Sosial Badan Pusat Statistik Kota Tasikmalaya, mengatakan, dari tahun ke tahun persentase angka kemiskinan di kota yang berambisi menjadi daerah termaju dalam jasa dan perdagangan di Priangan Timur itu selalu turun, meski pada 2015 sempat naik lagi.

“Kenaikan di 2015 itu di antaranya disebabkan karena kebijakan Pemerintah Pusat yang menaikkan harga bahan bakar minyak pada tahun sebelumnya. Daya beli masyarakat menurun, kemiskinan meningkat,” tuturnya.

Ia menyebutkan, dari jumlah penduduk Kota Tasikmalaya sekitar 659 ribu jiwa, ada 102 ribu lebih warga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Data itu sampai 2016 dengan gini rasio 0,416.

“Kesenjangan ekonomi di Kota Tasikmalaya memang tinggi juga. Yang kaya makin kaya, yang miskinnya semakin miskin. Saya pernah ke daerah Kecamatan Tamansari, bertanya ke warga, kebun yang luas itu milik siapa, jawabannya milik orang kota. Warga setempat hanya jadi buruhnya,” papar Adih.

Di tempat lain, ia juga pernah mewawancarai beberapa orang yang bekerja di tempat usaha batik. “Mereka yang asalnya punya usaha batik sendiri, membuat sendiri, dijual sendiri, tapi sekarang banyak di antara mereka yang bekerja di orang lain dalam sektor usaha yang sama. Mereka yang dulu bikin batik sendiri, sekarang jadi pekerja di pengusaha batik,” bebernya. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?