Guru-guru RA Kota Tasik | Jay/initasik.com
Edukasi

Apa yang Membuat Guru-guru RA Bertahan Mengajar dengan Gaji Sangat Kecil?

initasik.com, edukasi | Tanggung jawab besar dengan gaji sangat kecil, siapa bisa tahan? Jawabannya adalah guru raudhatul athfal (RA). Tugas mereka tidak ringan. Anak-anak usia emas ada di genggamannya. Namun, “balasan” yang diterima tidak setimpal.

Ketua PD Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Kota Tasikmalaya, Heni Nuroniah, menyebutkan, rata-rata gaji para guru RA adalah Rp 200 ribu per bulan. Mayoritas mengandalkan dari uang SPP.

“Tapi para guru tetap menjalankan kewajibannya dengan baik. Saya jadi guru RA sejak 1990, tapi semakin ke sini semakin banyak yang ingin jadi guru RA. Niat mereka jihad di bidang pendidikan,” tutur Heni saat diwawancara di sela perayaan HUT ke-15 IGRA Kota Tasikmalaya, di salah satu pusat perbelanjaan, Kamis, 16 November 2017.

Ia menegaskan, kendati gaji mereka sangat minim, namun semangat mengajarnya tidak diragukan. Setiap hari membimbing anak-anak dengan berbagai macam karakter, sehingga diperlukan kesabaran ekstra.

“Kalau hanya melihat gaji, pasti tidak akan ada yang mau jadi guru RA. Tapi kami berangkat dengan niat mulia. Ingin jihad di bidang pendidikan. Ikhlaskan. Rezeki mah pasti selalu ada. Datangnya dari mana saja,” tandasnya.

Saat ini, guru RA di Kota Tasikmalaya berjumlah 906 orang. Mereka tersebar di 138 lembaga pendidikan RA. Dari 906 orang itu, yang sudah tersertifikasi baru 260-an guru, dan lima orang berstatus PNS.

Heni mengaku, PD IGRA bersama Kementerian Agama selalu berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan para guru. Selain melalui sertifikasi, tiap tahun mendapat bantuan dari Pemkot Tasikmalaya.

Di tempat yang sama, Lia Dahlia, guru RA Fathul Khoer, mengatakan, dirinya sudah mengabdi di RA yang berada di Sindanggalih, Kersanegara, Kecamatan Tawang, itu sudah dua puluh tahun. Baru dua tahun ini dapat sertifikasi.

“Kalau gaji bulanan Rp 200 ribuan. Dulu mah Rp 5.000. Alhamdulillah. Dijalani saja. Saya senang bersama anak-anak. Enjoy. Tidak pernah ada pikiran ingin keluar. Justru ingin memajukan lembaga,” ujarnya.

Hal senada diutarakan Pupu Marpuah, guru RA Persis 84 Sabilunnajah, Sirnagalih, Cidoyang, Indihiang. Ia sudah mengajar selama 16 tahun. Yang membuatnya bertahan dengan gaji kecil adalah kecintaannya pada pendidikan. “Mudah-mudahan janten pahala kanggo alaeun engke jaga,” ucap perempuan berusia 51 tahun itu. [Jay]