Inspirasi

Ariny Nurul Haq; Dari Kalimantan Selatan Berbagi Kepedulian Melalui Bale Asih


Kabupaten Tasik | Namanya Ariny Nurul Haq. Sejak kecil ia mengalami keterbatasan fisik. Tidak bisa berjalan dengan kedua kakinya. Sejak dalam kandungan, ia telah didiagnosa mengalami kelainan pada tulang belakang.

Hal itu membuat organ geraknya tidak berkembang dengan normal. Apapun yang dilakukannya, tidak jauh dari bantuan orang lain. Kursi roda sudah menjadi sahabat karibnya. Kedua kakinya yang sama sekali tidak bisa digerakkan.

Namun, keterbatasan fisik tidak membuatnya gelap hati untuk terus mengejar cita-cita. Saat di bangku sekolah, ia termasuk siswa cerdas. Selalu ada di peringkat lima besar. Padahal, dulu ia pernah dibuat kecewa oleh lembaga pendidikan. Beberapa kali ditolak sekolah dengan alasan tidak layak masuk hanya karena kondisi fisiknya.

Hinaan dan ejekan sering didapatkannya. Ariny tegar. Keluarga selalu membimbingnya untuk bersabar. Berbaik sangka pada Tuhan. Tak heran, sejak di bangku sekolah dasar, ia mampu menorehkan prestasi. Ia pandai menulis.

“Jika kamu tekun menggeluti dunia literasi, kamu akan menjadi penulis terkenal,” ujar  Riny menirukan ucapan gurunya, dulu.

Sejak itu, Ariny semakin semangat dan percaya diri dalam menulis. Apalagi setelah pertemuannya dengan Fitria Prarnasari, penulis novel dan skenario film. Darinya ia mendapat banyak ilmu menulis.

“Keterbatasan fisik itu sama sekali bukan penghalang untuk menuju kesuksesan. Yang sering kali menjadi penghalang ialah keinginan untuk mendapatkan kesuksesan dengan cara cepat. Kekurangan fisik bukanlah kendala dalam berkarya,” tandas Ariny.

Alhasil, beberapa novel karyanya meledak di pasaran. Dari 2012 sampai sekarang, ia telah melahirkan 22 karya tulis, seperti “Kuntilanak Gaul” (DeKa Publisher), “Di Antara Dua Pilihan” (Deka Publishing, 2012), “Ketika Cinta Semerah Darah” (Goresan Pena Publishing, 2012), “Love Storm in Seoul” (Diandra Creative, 2012), “Susan Ngesot” (Diandra, 2013), “Ketika Hati Merelakan Cinta (Diandra, 2013), “Kukembalikan Cintamu” (Zettu, 2013) dan lain-lain.

Di 2016, ia berhasil menulis beberapa karya, misalnya “1 Bulan 1 novel? Siapa Takut!” (Arsha Teen), “Sandiwara Cinta” (Arsha Teen), “7 Misteri di Korea” (Arsha Teen), “Blog Kematian” (Arsha Teen), “September Wish” (Arsha Teen), “Melepasmu untuk Sementara” (Arsha Teen), dan “Pengantin Galau” (Arsha Teen). Beberapa karyanya pun masuk dalam sebuah antologi cerpen.

Perempuan yang bercita-cita jadi penyiar radio itu memiliki beberapa usaha bisnis. Di antaranya counter pulsa, percetakan foto, dan penerbitan indie). Semua itu ia kelola bersama keluarganya.

Selain sarat karya, ia memiliki kepedulian tak terbatas. Warga Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, itu konsisten menjadi donatur Bale Asih, toko gratis yang didirikan Yayan Tahyan, mantan kepala Dinas Kabupaten Tasikmalaya.

Ia menyuplai beragam keperluan, mulai buku hingga keperluan sekolah lainnya. Semuanya dikirim via jasa pengiriman. Perempuan kelahiran Solo, 16 September 1991, itu mengaku tergugah rasa kemanusiaannya setelah mengetahui sepak terjang Bale Asih. Pengalaman hidupnya membuat ia dewasa menyikapi segala persoalan sosial. initasik.com|Ahmad

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?