Siswa SMK Widya Mukti | Kus/initasik.com
Edukasi

Asal Mau Sekolah, Siswa SMK Widya Mukti Bayar Iuran Semampunya, Gratis Juga Boleh

initasik.com, edukasi | Di tengah bising soal sekolah lima hari dan beberapa kasus perundungan di lembaga pendidikan, dari ujung Kabupaten Tasikmalaya sana berhembus kabar yang menyejukkan.

Adalah SMK Widya Mukti, Jalan Gunung Satria, Desa Sirnagalih, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, yang kini mendidik lebih dari seratus siswa. Sebagian besar dari mereka merupakan anak-anak yang nyaris putus sekolah dengan berbagai alasan, mulai persoalan ekonomi, hingga orangtua yang tidak mengizinkan sekolah.

Sekolah yang berada di perbatasan dengan Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, itu tidak membebani siswanya iuran bulanan. Dibayar sesuai kemampuan masing-masing. Khusus yatim piatu digratiskan.

Kepala SMK Widya Mukti, Dadan Erawan, mengatakan, sekolah itu didirikan untuk menampung siswa yang nyaris putus sekolah. “Kami semua guru bergerak, mendatangi satu per satu rumah warga untuk mencari anak usia sekolah. Selain kondisi ekonomi, ada juga orangtua yang justru melarang anaknya sekolah dengan berbagai alasan,” tuturnya.

Mereka yang diajak untuk sekolah pun sebenarnya diberikan keleluasaan untuk membayar iuran sekolah. Besarannya variatif. Ada yang Rp 10.000, Rp 15.000, Rp20.000, hingga Rp 50.000, dari iuran sebenarnya Rp 75.000.

“Tekad kami adalah berupaya agar anak-anak tetap bisa belajar. Meskipun ini SMK swasta dengan jurusan Administrasi Perkantoran dan sebentar lagi dibuka jurusan perbengkelan, namun tujuannya bukan money oriented. Kami bersama para guru rela bekerja tanpa pamrih, demi turut serta dalam upaya mencerdaskan generasi bangsa,” tandas Dadan.

Tantangan lain yang dirasakan sekolah adalah keberadaan dua pabrik yang berada di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut. Mereka merekrut anak-anak putus sekolah dari jenjang SMP untuk bekerja, sehingga mereka lebih memilih cari uang ketimbang sekolah. Malah disuruh orangtuanya. Dadan dan para guru kembali bergerak untuk mencari anak-anak tersebut agar mau melanjutkan pendidikannya.

“Memang kali ini tidak ada penolakan yang ekstrim berupa kemarahan dari orangtua seperti yang terjadi tahun lalu dimana ada yang sampai mengajak dialog yang alot, hingga membanting pintu dan marah-marah. Namun kemarin orangtua hampir semua menghindar enggan bertemu dengan kami, sehingga hanya 5 orang yang berhasil kami ajak untuk sehari kemarin,” ungkap Dadan.

Ia mengaku tidak akan kapok dan bakal terus mencari anak-anak putus sekolah tersebut hingga beberapa waktu ke depan, meskipun upayanya terbatas dengan waktu pemberian mata pelajaran yang telah mulai berjalan.

Mereka kebanyakan di pelosok-pelosok kampung yang cukup sulit untuk diakses. Sebagian besar keluarganya merupakan buruh tani dengan penghasilan yang sangat minim. “Kami sangat prihatin atas kondisi ini, sehingga butuh kerja sama dengan semua pihak agar orangtua sadar akan arti pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya,” ujar Dadan.

Ia berharap, seluruh dinas intansi lintas sektoral di Kabupaten Tasikmalaya dan Garut bergerak bersama-sama untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. [Kus]

Komentari

komentar