Asmaul Husna dan Gapura Dadaha Harus Diperbaiki
Peristiwa

Asmaul Husna dan Gapura Dadaha Harus Diperbaiki

Kota Tasik | Asmaul Husna yang dipasang di tugu simpang Nagarawangi, Kota Tasikmalaya, ternyata ada kesalahan penulisan di beberapa nama. Misalnya, seharusnya ditulis Al-Jabbar, jadi terbaca Alhayyar. Dari Yang Maha Agung, menjadi maha bingung.

Contoh lain, Al-Hakim yang berarti Yang Maha Bijaksana, karena tidak ada huruf “ya” maka menjadi kata dasar; hukum. “Ada lebih dari sepuluh nama yang salah dalam penulisannya,” sebut Asep M Tamam, dosen Bahasa Arab Institut Agama Islam Cipasung, Minggu, 3 Desember 2015.

Kesalahan-kesalahan penulisan itu, sambung Asep, diketahui setelah tadi siang, ia dan rekan-rekannya sengaja melihat tugu Asmaul Husna dari dekat. “Di Tasik ini kita banyak ahli kaligrafi yang mampu menulis dengan baik dan berkaidah. Penulisan Asmaul Husna di tugu itu tidak memakai kaidah kaligrafi. Asal nulis,” tuturnya.

Asep, yang juga pembina kaligrafer Tasikmalaya,  menegaskan, kaidah dalam penulisan kaligrafi itu sangat penting agar karya yang dihasilkan benar dan indah. “Kita bukan mencari kesalahan, tapi ingin meluruskan sesuatu yang salah secara kaidah,” tandasnya.

Bukan hanya tugu Asmaul Husna yang salah dalam penulisan. Gapura Dadaha dan plang nama di taman pertigaan Dadaha pun terdapat kesalahan. Seharusnya kompleks, tapi ditulis komplek. “Fatal. Mesti diperbaiki. Segala sesuatu bermula dari yang sederhana,” ujar Bode Riswandi, dosen Bahasa Indonesia Unsil.

Ia menyarankan, ke depan, sebelum membuat satu identitas yang menyangkut wajah kota, sebaiknya dikonsultasikan dulu kepada pakar atau yang paham tata bahasa. “Biar tidak jadi bahan olok dan cibiran,” katanya. initasik.com|shan

Komentari

komentar