Asop Sopiudin bersama keluarga | Ist
Sosok

Asop Sopiudin; Pernah Jualan Koran, Jadi Pendidik dan Pilihan Sikapnya pada Dunia Politik

initasik.com, sosok | Lahir dan besar di keluarga sederhana, jalan hidup Asop Sopiudin tidak semudah orang lain yang diasuh dalam gelimangan harta. Ayahnya yang merupakan seorang petani dan guru ngaji di kampungnya, dikenal memiliki disiplin yang kuat serta menanamkan pemahaman kepada anak-anaknya untuk bisa hidup mandiri.

Saat sekolah di SMA Ponpes Cintawana Tasimalaya, 1991, ia telah berupaya untuk bisa mencari uang sendiri hingga bisa kuliah di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Beban berat hidupnya makin terasa ketika masuk semester lima masa perkuliahan. Ayahnya meninggal dunia. Ia harus menjadi tulang punggung bagi ibu dan empat orang adiknya.

“Saat itu apa saja saya kerjakan. Yang penting bisa membiayai kuliah saya, untuk makan sehari-hari, hingga memberikan uang kepada keluarga yang jauh di Tasikmalaya. Saya pernah jualan koran dan apa saja yang penting halal. Alhamdulillah, selagi ada kemauan akhirnya saya bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu,” papar Asop.

Di kampus, ia senang berorganisasi hingga sempat duduk di Senat Mahasiswa, KOPMA, sampai aktif di Himpunan Mahasiswa Islam. Setelah lulus kuliah, 1997, ia diminta untuk aktif di dunia politik. Pilihannya jatuh ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kala itu diamanahi jabatan sekretaris Ranting di desanya.

Ia memilih PPP karena masayarakat Desa Cikadu dan Nusawangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, merupakan basis partai berlambang Kakbah itu. Dari sekretaris ranting, ia kemudian jadi ketua Ranting PPP pada 1998 seiring dengan dirinya mendirikan SMP Darul Abror.

Sambil menjalani profesinya sebagai tenaga pendidik sekaligus memimpin sekolahnya, pada 1999 Asop dipercaya menjabat sekretaris PAC PPP hingga menjadi ketua PAC setahun kemudian. Di tahun itu pula ia mendirikan MA Darul Abror.

Pada pemilu legislatif 2004, ia dicalonkan jadi anggota dewan. Meskipun perolehan suaranya mencapai 8.200, Asop tidak masuk parlemen. “Kampanye saya saat itu dibarengi dengan mencari siswa untuk masuk ke sekolah saya. Meski tidak jadi anggota legislatif pada tahun 2004 itu, tetapi saya mendapatkan 145 siswa baru hingga berhasil mendirikan SMK,” kenangnya sambil tertawa lebar.

Seiring berjalannya waktu, melihat kiprah dan prestasinya dalam dunia politik yang mendapatkan apresiasi serta kepercayaan masyarakat, pada 2009 ia dipercaya menjabat sekretaris DPC PPP dan sukses membawa PPP menjadi pemenang pemilu dengan meraih 14 kursi, termasuk dirinya akhirnya duduk di DPRD Kabupaten Tasikmalaya.

Sosok yang sempat menjabat Sekretaris Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPC PPP Kabupaten Tasikmalaya itu kemudian diparkir menjadi MPC DPC PPP hingga 2014. Itu tak membuatnya resah, malah lebih konsentrasi terhadap 970 anak didiknya di SMP, MA, dan SMK Darul Abror.

Dalam menjalani karier politiknya Asop dikenal sebagai pribadi yang kalem. Segala dinamika politik selalu dihadapi dengan tenang. Ia mengaku tidak pernah berpikir untuk habis-habisan dalam memperjuangkan karier politik, apalagi memiliki ambisi berlebihan dengan mengabaikan prinsip dan keyakinannya.

Kendati begitu, ia dikenal sangat bertanggungjawab dalam mengemban amanah yang diberikan masyarakat. Ia pun selalu menghindar sebisa mungkin untuk tidak terlibat konfrontatif dengan siapapun, baik di internal partai ataupun di lembaga legislatif yang multipartai.

“Saya tidak pernah memiliki musuh atau lawan dalam dunia politik ini, apalagi saya hanya mau bertarung dalam arena tertentu saja. Dalam proses pemilu legislatif misalnya, yang sudah jelas ringnya. Itupun tetap tidak terlalu ngoyo apalagi ambisi yang berlebihan,” tandas suami Yeti Suryati dan ayah tiga anak itu. [Kus]

Komentari

komentar