Jay | initasik.com
Birokrasi

Atlet Berprestasi dan Regulasi Birokrasi yang tidak Berpihak

initasik.com, birokrasi | Imas Kartika, atlet angkat besi asal Kota Tasikmalaya, akan bertanding di kejuaraan tingkat dunia. Sebelumnya, awal Mei kemarin, ia berhasil berdiri di podium tertinggi dalam Asian Powerlifting Championship 2017, di Soreang, Kabupaten Bandung.

Prestasi itu membawa Imas ke kancah internasional. Kendati berlatih di tengah sokongan anggaran yang minim, ia bersama kedua rekannya yang juga berprestasi, Intan Kemalasari dan Utari Anggraeni, bisa mempersembahkan medali terbaik.

Wakil Ketua PABBSI Kota Tasikmalaya, Baihaqi Umar, mengatakan, prestasi itu didapat berkat kerja keras dan tekad menghujam. Keterbatasan anggaran bukan alasan bagi para atlet dan pengurus untuk mundur dari medan laga.

Ia mencontohkan, untuk test doping, anggaran yang diperlukan satu orang atlet mencapai Rp 1,5 juta. Sedangkan KONI Kota Tasikmalaya hanya memberi bantuan Rp 2 juta. Untuk menggelar program latihan, proses seleksi, sampai mengikuti kejuaraan, uang sekecil itu jelas tidak akan cukup.

Baca: Atlet Angkat Besi Kota Tasik Bakal Tanding di Kejuaraan Tingkat Dunia

Pengurus PABBSI Kota Tasikmalaya tak mau menyerah. Pertandingan mesti dituntaskan. Mereka sepakat untuk urunan. Pengorbanan dan kerja keras itu membuahkan hasil manis. Imas dipastikan ikut kejuaraan dunia.

Baihaqi mengungkapkan, sampai saat ini, belum ada apresiasi apapun dari Pemkot Tasikmalaya. “Saya berharap agar pemerintah atau siapapun yang peduli dengan Kota Tasikmalaya bisa memberikan dukungan dengan cara apapun agar anak-anak ini bisa terus bersemangat meraih prestasi,” tandasnya.

Baca: Atlet Asal Kota Tasikmalaya Kibarkan Merah Putih di Kejuaraan Angkat Besi Tingkat Asia

Terpisah, Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, kelimpungan saat ditanya apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk memuluskan pertandingan Imas di tingkat dunia. Menurutnya,  pemerintah tidak bisa  mengeluarkan anggaran untuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya mendadak.

“Kalau kegiatan-kegiatan dadakan, tidak hanya di bidang olahraga, kita sulit mengeluarkan uang, kecuali kalau untuk bantuan sosial, seperti membantu rumah yang runtuh,” ujarnya, Senin, 8 Mei 2017.

Ia meminta masyarakat untuk memahami perkembangan regulasi. “Kita dorong masyarakat untuk merencanakan kegiatan satu tahun sebelumnya. Tahun depan kita mau mengadakan apa, usulkan ke pemerintah. Kalau nanti anggarannya ada dan terverifikasi, baru kita bisa memberikan bantuan,” sebutnya.

Ditanya lagi apakah Pemkot Tasik bisa mendanai keberangkatan Imas dan tim untuk mengikuti kejuaraan tingkat dunia, Budi menjawab susah. Itu masuknya kegiatan insidental. Kalaupun mau membatu, sifatnya pribadi. Bukan dari anggaran pemerintah.

Lain halnya dengan MTQ, misalnya. Setahun sebelum penyelenggaraan, itu sudah masuk penganggaran. “Kalau tiba-tiba semacam ini, susah juga. Apapun itu bentuk kegiatannya. Kalau mendadak, kita selalu kesulitan, karena terbentur regulasi pengeluaran anggaran. Mudah-mudahan yang berprestasi itu bisa kita bantu di (anggaran) perubahan,” paparnya. [Jay]

Komentari

komentar