Peristiwa

Awas Rentenir!

Kota Tasik | Akhir-akhir ini, Ny. Herliantina sering mengurung diri. Ia tak mau keluar rumah untuk sekadar pergi ke warung atau ngariung dengan tetangga. Warga Kel. Tawangsari, Kec. Cihideung, Kota Tasikmalaya, ini lebih memilih sembunyi ketimbang bersosialisasi. Bukan, bukan karena ia punya masalah dengan para tetangga. Ia bersikap seperti itu lantaran tak tahan dikejar-kejar rentenir.

Ia menyebutkan, perasaannya lebih banyak tidak tenang, karena takut bertemu dengan penagih “bank keliling” itu. Jika bertemu, ibu dua anak ini mengaku sering dimarahi dan dicaci maki dengan kata-kata yang tidak sopan.

Dengan nada kurang bergairah, kepada initasik, ia menceritakan awal petaka yang menimpanya. Menurutnya, beberapa bulan lalu ia terdesak kebutuhan keluarga. Ia perlu uang yang saat itu ia rasa lumayan besar. Namun, ia bingung bagaimana bisa mendapatkan uang itu dalam waktu yang singkat. Tabungan tak punya, sementara jika harus “makumaha” kepada tetengga ia mengaku malu.

Di saat tengah kalut, ia bertemu seseorang yang menawarkan pinjaman. Lantaran sedang sangat membutuhkan, segala persyaratan ia angguki. Bunga sebesar 40% pun ia sanggupi. Akhirnya, istri seorang satpam inipun meminjam Rp 100 ribu.

Awalnya, cicilan harian ia mampu penuhi. Tapi, lantaran banyak keperluan lain selain mencicil pinjaman itu, ia mulai menunggak. Di sinilah wajah si peminjam itu mulai terbuka. Ia tak mau tahu alasan kenapa Ny. Herliantina tak bisa membayar cicilan. Si petugas mulai melontarkan caci maki, bahkan hingga berjam-jam tak mau angkat kaki jika Ny. Herliantina belum mencicil.

Dalam buaian lain pemberinya, hingga cerita tanggungan utang itu tak lagi pada seorang tukang kredit uang, akhirnya barang-barang rumahtangga pun sebagian “melayang”, harus dijual untuk membayar cicilan.

Dengan catatan kemacetannya yang sering, utang itu dirasanya menggunung, terdongkrak akumulasi denda. Awalnya meminjam Rp 100 ribu, ujungnya jadi berutang di atas Rp 1 juta. Ia kini lunglai. Bingung harus bagaimana menyelesaikan masalahnya itu. Sementara pendapatan suaminya hanya cukup memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Lain lagi dengan derita yang dialami Mina (bukan nama sebenarnya). Warga Kec. Indihiang ini harus kehilangan rumahnya karena disita rentenir. Awalnya, ia meminjam uang Rp 500 ribu untuk tahlilan atas kematian ayahnya. Namun, karena tak bisa bayar, rumahnya dijadikan aset sitaan.

Keadaan yang lebih tragis lagi menimpa Ny. Da, warga Kel. Mugarsari, Kec. Tamansari. Lantaran pinjam uang ke rentenir, rumah tangganya berantakan. Bahkan, jiwanya sempat tergoncang. Ia sering tak sadarkan diri dan ujug-ujug menjerit histeris, terutama setelah ditinggalkan suaminya, Ya.

Kisah itu berawal dari kenekatan Ny. Da meminjam uang tanpa sepengetahuan suaminya yang hanya pekerja serabutan. Mirisnya, ia meminjam kepada beberapa rentenir. Tanpa terasa, hutangnya menumpuk jadi Rp 6 juta.

Sementara Ny. Rum, masih warga Kel. Mugarsari, lebih dibuat pusing lagi oleh rentenir. Janda sepuh ini awalnya hanya pinjam Rp 100 ribu untuk tambahan modal jualan lotek. Semula, ia berutang hanya pada seorang, tapi kemudian terbuai meminjam uang kepada tiga rentenir sekaligus. Tak pelak, akumulasi hutang dan bunganya hampir Rp 30 juta. Untuk membayarnya, ia terpaksa menjual rumah. Usaha loteknya pun bangkrut. initasik|ashani/piet

Komentari

komentar