Peristiwa

Ayah dari Anak-anak Pencari Barang Rongsok Itu Ternyata Punya Empat Istri


initasik.com, peristiwa | Jubaedah, 45 tahun, sedang duduk di pintu masuk rumahnya saat initasik.com bertandang, Sabtu, 22 Juli 2017. Telunjuk dan jari tengah tangan kirinya mengapit sebatang rokok. Di lantai, segelas minuman tinggal setengahnya.

Ibu dari Guntur Kurniawan dan Sopiandi, dua bocah SD yang biasa “mencari” rongsokan di malam hari, itu mengaku baru pulang cari rumput. Ia memelihara kambing milik seseorang. Hasilnya dibagi dua. Istilahnya nengah.

Dari perbincangan selama lima menit dengan Jubaedah, diketahui kalau suaminya, Pandi, punya empat istri. Ia istri keempat. Selain Wawan, panggilan akrab Guntur Kurniawan, dan Sopiandi, mereka diamanahi dua anak lainnya, yaitu Nurhasanah dan Abdul Jalaludin.

Urutannya, Nurhasanah, Abdul Jalaludin, Guntur Kurniawan, dan Sopandi. Semuanya suka “mencari” barang-barang bekas. Nurhasanah yang kini sudah 17 tahun terpaksa keluar dari sekolah saat masih kelas 2 SD.

Kini, katanya, ia sudah bekerja. Jubaedah tidak menyebutkan di mana tempatnya. Sedangkan Wawan dan Jalal masih duduk di kelas 6, Pandi kelas 2, di SDN Tuguraja 4, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya.

Baca: Dieksploitasi Orangtua, Dua Siswa SD Ini Tidak Tahu Agama dan Pancasila

Jubaedah mengaku tidak mengeksploitasi anak-anaknya untuk mengemis dengan pura-pura mencari barang bekas. “Maunya sendiri. Katanya mau cari uang untuk menabung dan beli buku sekolah,” ujarnya dalam bahasa Sunda.

Ditanya apa pekerjaan suaminya, ia menjawab tidak ada. Pengangguran. Terkadang membantu dirinya ambil rumput. “Kalau dulu kerjanya di bangunan. Sekarang tidak kerja,” sebut warga Gunung Pancuran 01/06 Jiwa Besar, Kelurahan Tuguraha, Kecamatan Cihideung, itu.

Terpisah, Kepala SDN Tuguraja 4, Amin Kusnadi, mengatakan, pihak sekolah sudah sering menasehati Jubaedah untuk tidak memperlakukan anak-anaknya seperti itu. Tapi, itu tidak pernah diindahkan.

“Kami berusaha semaksimal mungkin agar mereka tetap bisa sekolah. Tapi bila tidak dibarengi dengan pendidikan di keluarga, sulit juga. Padahal keluarga itu sudah dapat bantuan rutin dari Program Keluarga Harapan dan Kartu Indonesia Pintar,” tuturnya. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?