Dok. Pribadi
Humaniora

Bagaimana Bisa Guru Sukwan Dibayar Rp 200 Ribu Mampu Kuliahkan Anak?

initasik.com, humaniora | Uu Wahyudin, sudah tiga belas tahun menjadi guru sukarelawan di SDN Cisanggar, Desa Ciheras, Kecamatan Cipatujah. Sejak awal sampai sekarang ia mengaku dibayar Rp 200 ribu setiap bulan.

Nominal sekecil itu harus bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Bukan hanya keperluan sehari-hari, tapi juga kebutuhan dasar lainnya, seperti pendidikan. Menafkahi keluarga dengan satu istri dan tiga anak, bagaimana bisa Rp 200 ribu bisa cukup? Apalagi, anak sulungnya,  Nova Hidir Fauzi, kuliah di Akademi Militer Cirebon. Kini ia sudah lulus. Rencananya akan berangkat ke Korea.

Untuk menutupi segala kebutuhan hidup, Uu mesti bekerja keras. Tidak mungkin mengandalkan penghasilan dari sukwan. Berkebun pilihannya. Ia menggarap kebun albasia dan pisang.

Seberes menunaikan kewajibannya di sekolah, ia pergi ke kebun. Merawat tanaman. Itu sudah dijalaninya sejak anak sulungnya duduk di bangku SMP. “Kalau hanya mengandalkan pendapatan sebagai guru sukwan, mana mungkin cukup. Makanya saya harus cari pemasukan dari tempat lain,” ujarnya.

Kebun albasia itu, kata Uu, bukan miliknya. Itu merupakan tanah negara, meski ia pribadi punya lahan sendiri yang luasnya tidak seberapa. “Selain alba, ditamani juga pisang. Lumayan buat tambah-tambah,” sebut suami Dedeh Kurniasih serta ayah dari Nova Hidir Fauzi, Romi Wardani, dan Novi U Rafadiana itu.

Ia mengaku jadi guru sukwan atas kemauannya sendiri. Awalnya kasihan melihat anak-anak sekolah di kampung halamannya tidak ada pengajar. Ia harus berbuat sesuatu. Maka, sejak 2004 ia berbagi ilmu di dalam kelas.

Untuk menambah pengetahuannya, ia lantas kuliah di universitas terbuka. Lulus. Kini, pendidikannya sudah S-1. “Kalau diangkat jadi PNS, alhamdulillah. Kalaupun tidak, tidak apa-apa. Pasrah. Serahkan kepada Yang Maha Kuasa. Meski bukan PNS, rezeki bisa datang dari mana saja. Saya mah senang bisa melihat anak-anak bisa belajar,” tuturnya. [Jay]

Komentari

komentar