Ist
Komunitas

Bagong Torex’s; Menimba Banyak Pelajaran Hidup Saat Berpetualang ke Alam

initasik.com, komunitas | Setiap kali melakukan adventure, banyak pelajaran yang dapat diambil untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kekeluargaan, kerja sama, saling menghargai, tolong menolong dan lain-lain.

Juga, membuang sifat egois atau merasa diri paling jago. Pasalnya, pertolongan dari orang lain sangat diperlukan. Banyak rintangan yang tidak bisa diselesaikan oleh sendirian saat berpetualangan di alam.

“Selain mengandalkan ketahanan fisik dan mental, kita juga terus mengembangkan kemampuan kita. Paling penting, kita harus bisa kerja sama dengan yang lain, saling tolong menolong. Banyak pelajaran. Yang jelas kita itu silaturahmi, menjalin kekeluargaan. Menambah rasa percaya diri dan berani mengambil risiko, serta kerja sama sangat diperlukan,” tutur Tarmuji, ketua Bagong Torex’s.

Dia menceritakan, komunitas itu dibentuk 2011 silam,. Bermula dari kesenangan yang sama. Hobi naik gunun dengan mengendarai motor. Yang membedakan dengan komunitas lain, komunitas ini tidak menjadi beban bagi anggotanya. Tidak ada aturan yang mengikat. Soalnya, berasal dari kesadaran masing-masing individu setiap anggota. Semua kalangan ada di komunitas ini, mulai dari TNI, Polri, pengusaha dan lain-lain.

“Komunitas ini kami bentuk beda dengan komunitas yang sudah ada. Terlebih bermacam kalangan ikut berpartisipasi dalam komunitas ini. Dari leuleuweungan kita suka ikutan balapan. Hobi ini harus bisa tersalurkan, misalnya dengan ikut balapan. Alhamdulillah komunitas kita selalu juara tingkat daerah maupun nasional,” ungkap anggota TNI itu.

Ketika adventure, lanjut dia, bukan hanya sekadar bersenang-senang, tapi sekaligus belajar dari alam, melihat keadaan sekitar. Harus bisa bersahabat dengan alam, mempelajari setiap medan, cuaca, dan musuh. Kalau alam sudah menjadi sahabat, seberat apapun rintangan akan bisa dilalui.

“Kita harus selalu belajar dari pengalaman, membutuhkan proses untuk kita bisa bersahabat dengan alam. Banyak suka duka. Banyak sekali pelajaran yang didapat. Dari kesehatan sudah jelas, saya sudah berusia 52 tahun tapi tetap bugar dan kuat. Masih mampu untuk nyaingin yang berusia 40 tahunan. Nambah wawasan juga, kita tahu persis kegiatan masyarakat di pegunungan. Kita bisa tahu lebih awal ketika ada bencana tanah longsor,” ujarnya.

Asep Abdullah, anggota Bagong Torex’s, menambahkan, ketika naik gunung harus menjungjung tinggi nilai-nilai keluhuran. Jangan hanya memuaskan hobi, tapi juga harus belajar dari alam.

Menurutnya, ngegass ke gunung, bukan masalah jago atau ahli mengendarai motor trail. Penting adanya kerja sama dan saling tolong menolong. “Intinya kerja sama tim. Misalnya ketika kehabisan air, ada yang bertugas mencari air dan ada yang nungguin. Terus kalau butuh sparepart ada yang mengambil dari motor kawan atau beli dengan turun gunung lagi. Banyak pelajaran yang didapat dari hasil kegiatan naik gunung ini. Dengan sendirinya, kebiasaan ini bisa terbaa dalam kehidupan sehari-hari,” paparnya. [Syaepul]