Inspirasi

Bah Miin

Kabupaten Tasik | Gigi atas boleh tinggal dua, tapi semangat tetap muda. Tekadnya pun masih membaja. Dialah Bah Miin, warga Cialangoma, Desa Cidugaleun, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya.

Meski usianya sudah sepuh, namun gairahnya belum melepuh. Bersama warga lainnya ia kini sedang membuat selokan yang melewati tujuh bukit. Direncanakan, panjangnya enam kilometer. Itu bukan pekerjaan mudah. Perlu konsistensi dan nyali tinggi.

Saat mencongkel batu besar di bukit Tonjong Panjang, misalnya, salah seorang warga nyaris kehilangan nyawa. Tubuhnya seperti tersedot batu yang jatuh ke sungai. Beruntung temannya sigap menangkap. Jika tidak, badannya pasti remuk saat mendarat di dasar sungai. Jangankan tubuh, batupun hancur lebur kala jatuh dari ketinggian 85 meter itu.

Berbekal peralatan seadanya, Bah Miin dan warga lainnya konsisten membuat selokan tiap Kamis. Jadwalnya seminggu sekali, karena mereka punya keluarga yang harus dinafkahi. Enam hari bekerja mencari uang, satu hari gotong royong, mulai pagi sampai siang.

Seperti itu sejak 2005. Tak heran, dari target enam kilometer itu, yang sudah jadi selokan baru sekitar 700 meter. Selain gotong royongnya hanya seminggu sekali, medannya pun tak mudah untuk digarap. Kecuraman tebingnya membuat hati berdesir. Menakutkan.

Saat initasik.com melihat lokasi, berdiri di ketinggian 85 meter di atas sungai cukup membuat telapak kaki mengkerut. Ciut. Padahal itu hanya lewat. Sedangkan Bah Miin dan warga lainnya menggantungkan diri di seutas tambang untuk membuat jalan setapak itu, dan membentuk selokan.

Jang barudak jaga,” jawab Bah Miin saat ditanya untuk apa membuat selokan yang bagi kebanyakan orang merupakan pekerjaan aneh. Bagaimana tidak aneh? Mereka harus mencacah tebing cadas di ketinggian 85 meter dari dasar sungai. Badan bergelantungan di seutas tali yang diikatkan ke pohon. Mengandalkan peralatan seadanya. Bertahun-tahun seperti itu. Tanpa pamrih.

Sayangnya, Kepala Desa Sukaharja, Edi, tidak responsif. Dia miskin inisiatif. Jangankan menyodorkan bantuan modal untuk peralatan, memberi dukungan moral pun tidak. Padahal Desa Sukaharja bakal menerima banyak manfaat jika selokan itu sudah beres.

Untuk membeli peralatan, Miin dan warga lainnya yang suka bergotong royong punya ide. Mereka menjual batu dan pasir kepada masyarakat yang sedang membangun rumah. Hasil dari pernjualan itu sebagian masuk saku masing-masing, sebagian lagi buat beli alat-alat yang diperlukan. Dan kini mereka tergabung dalam Paguyuban Solokan Curug Meber Cinila. Jumlahnya sekitar 20 orang.

Bagi Miin, membuat selokan yang melalui bukit-bukit seperti itu bukan yang kali pertama. Sebelumnya, suami Ai Darsih dan ayah tujuh anak itu berhasil membuat saluran air yang sumbernya dari Curug Ciparay. Panjangnya tiga kilometer, dan diselesaikan dalam waktu 12 tahun. Itu terbilang cepat, karena selain yang ikut gotong royongnya banyak, juga digarap seminggu dua kali. initasik.com|shan

Komentari

komentar