Sarip, salah seorang tukang permak baju di trotoar Jl. KH. Zainal Musthafa, mengacungkan salam tiga jari saat diambil gambar oleh initasik.com, Selasa, 4 Juni 2019.
Peristiwa

Baju Lebaran Kedodoran, Tukang Permak Kebanjiran Orderan

initasik.com, peristiwa | Sarip, salah seorang tukang permak baju di trotoar Jl. KH. Zainal Musthafa, Kota Tasikmalaya, tampak semringah, Selasa, 4 Juni 2019. Sambil memermak celana, kepalanya bergoyang mendengarkan lagu Perjuangan dan Doa miliknya Rhoma Irama yang disetel di ponselnya.

Wajar saja bila ia bahagia. Soalnya, uang yang masuk saku celana lebih banyak bila dibanding hari-hari biasa. Lima hari menjelang lebaran, ia mengaku kebanjiran orderan. Banyak yang datang ke tempatnya untuk mengecilkan baju atau celana yang kedodoran.

Pria yang sudah puluhan tahun menekuni pekerjaan jahit-menjahit ini setiap hari mangkal di trotoar Jalan Hazet. Dari pagi sampai magrib.Namun, di pekan terakhir Ramadan atau beberapa hari menjelang lebaran, ia harus pulang lebih malam. Baru pulang sekitar pukul sembilan malam.

Itu lantaran banyak orang yang butuh jasanya. Jika di hari biasa penghasilannya antara Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu, lima hari menjelang lebaran bisa sampai dapat antara Rp 300 ribu sampai Rp 700 ribu.

Bukan hanya Sarip, tukang permak lainnya juga mengalami hal serupa. Di sepanjang jalan Hazet, antara Masjid Agung sampai perempatan Pasar Mambo saja ada lebih dari delapan tukang permak.

Mereka kebanjiran orderan, karena banyak masyarakat yang membeli baju lebaran kedodoran. Model, warna pakaian, dan harganya cocok, tapi ukurannya kebesaran, jadinya dipermak. Maka, Sarip dan tukang permak lainnya dibuat senang, lantaran punya banyak buat bekal lebaran. Berjahit-jahit dahulu, baru kemudian mendapatkan uang. [jay/initasik.com]