Humaniora

Bakti Salman dan Kedua Adiknya Rawat Ayahnya yang Lumpuh

initasik.com, humaniora | Sepintas, M. Salman Farizi (14), Tia Nurzakia (12), dan Dimas Nurohmat (9), tidak berbeda dengan anak sekolah pada umumnya. Namun, jika ditelesik lebih dalam, ada perbedaan mencolok bila dibanding anak-anak seusianya.

Mereka tidak hanya berkewajiban belajar, tapi juga harus merawat ayahnya, Apeng, yang lumpuh karena sesuatu hal. Salman kini duduk di bangku kelas 1 di MTs Mathlabussa’adah Tenjonegara, Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya. Sedangkan kedua adiknya, Tia dan Dimas sekolah di SDN 2 Tenjonegara. Masing-masing kelas 6 dan kelas 3.

Ditemui initasik.com di rumahnya, Apeng menceritakan, lima tahun lalu ia ikut gotong royong membuat pengairan sawah. Sedang asyik bekerja, tiba-tiba terjadi hal yang tidak diduga. Ia tertimbun tanah, sehingga menyebabkan sakit.

Sejak saat itu, Apeng terbaring lemas di atas kasur. Bukannya membaik, kondisi tubuhnya semakin memburuk. Untuk buang air pun harus menggunakan selang. Itupun sudah tidak layak pakai. Warnanya hitam pekat.

Lantaran kondisi keuangannya sangat terbatas, Apeng mengaku tidak pernah lagi memeriksa kondisi kesehatannya. Jangankan digunakan berobat, untuk makan saja selalu kekurangan “Kalau untuk makan ya mengandalkan penghasilan anak-anak. Mereka jualan,” sebut pria berusia 38 tahun itu.

Ia merasa bersalah pada anak-anaknya, karena dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk keluarga. Sementara isterinya meninggalkan mereka sejak tujuh bulan lalu. “Isteri saya berangkat ke Bekasi. Katanya mau kerja, tapi sampai sekarang tidak ada kabar beritanya,” lirih Apeng. Matanya berkaca-kaca. Ia menangis.

Kini, Apeng tinggal di sebuah rumah sederhana peninggalan orang tuanya di Kampung Peuteuy Pugur 002/002, Desa Tenjonegara, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya.

Sehari-hari ia hanya diam di rumah. Tak banyak yang bisa dikerjakannya. Bertahun-tahun seperti itu. Bersyukur ia punya anak-anak yang saleh dan salehah. Dengan telaten, ketiga anaknya merawat Apeng setiap hari.

Mereka saling merawat ayahnya, mulai memberi makan, membersihkan tempat buang air kecil, membersihkan kotoran BAB, serta memandikannya. Sebenarnya Apeng tidak tega melihat anak-anaknya yang masih kecil terbebani oleh keadaan dirinya.

“Kalau anak-anak lagi tidur, terus saya mau buang air, terpaksa saya membangunkan mereka. Atau kalau sedang di sekolah, saya minta bantuan tetangga untuk menyuruh anaknya pulang dulu ke rumah,” ungkapnya.

Selain merawat, ketiga anaknya berusaha mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Di saat anak seusianya bergembira bermain dan belajar, mereka harus berbagi dengan waktu untuk mencari uang.

Pulang sekolah, Salman biasa mencari tupai. Itu dijual lima ribu sampai lima belas ribu rupiah per ekornya. Tergantung dari kecil besarnya tupai yang didapat. Sebuah semangat yang luar biasa dari seorang remaja. Jauh lebih dewasa dari rekan-rekan sebayanya yang terkadang manja serta enggan bekerja keras.

Sedangkan Tia berjualan sambil sekolah. Ia menjajakan barang dagangan kepada temen-teman dan guru-gurunya, tanpa merasa gengsi dan malu. Setiap hari membawa barang dagangannya yang dibungkus plastik.

Hasil dari dagangannya itu ia berikan kepada ayahnya. Apeng berharap ada santunan dan bantuan dari pemerintah atau masyarakat untuk biaya pengobatan dirinya. Dirinya sangat berharap bisa sembuh seperti semula. [Agus]

Komentari

komentar

Komentari

Komentari