Seni Budaya

Bale Budaya Mahardika; Menampar Keserakahan di Atas Bebukitan yang Hilang

Kota Tasik | Sore yang bersahabat di kawasan Gunung Hampelas, Situsari, Bungursari, Kota Tasikmalaya, Sabtu, 11 Januari 2017. Beberapa orang berkumpul. Gotong royong. Mempersiapkan pertunjukan seni. Waktunya berekspresi. Saatnya menyuarakan kegundahan. Gunung Hampelas Festival; Nyawang Bulan, siap digelar.

Di sisi lain, jalan yang dilalui menuju ke lokasi, berderet alat berat backhoe menggerus tanpa ampun salah satu bukit di sekitarnya. Truk-truk berjajar di kaki bukit yang koyak, menanti muatan pasir dan bebatuan.

“Tasikmalaya sekarang sudah beda. Ingar bingar. Glamor. Pusat belanja di mana-mana. Semerawut. Kita ingin membuat keseimbangan dengan kegiatan yang merakyat, sekaligus menghidupkan budaya gotong royong,” tutur Enko ARJ (Anak Rakyat Jelata), pengelola Bale Budaya Mahardika.

Malam menyapa. Seorang perempuan  bergaun putih menyusuri bebukitan. Membacakan Sajak Gunung Hampelas. Mengisahkan pengembaraan akan kehidupan dan penghidupan. Menelusuri diri akan pentingnya ruang dan waktu.

“Ini adalah spirit untuk menyatu dengan alam. Hasil dari pengembaraan dan perenungan yang akhirnya memutuskan untuk mengasing di daerah pegunungan. Menyendiri bukan berarti tidak menghasilkan apa-apa,” terang Enko menjelaskan alasan kepada dirinya melirik bukit yang sudah mati dihantam alat-alat berat untuk “dihidupkan” lagi.

Ia menuturkan, kegelisahannya pada hilangnya bukit-bukit, sehingga Tasik tidak bisa lagi disebut sebagai kota seribu bukit, membuatnya harus berpikir kreatif. Menentang tapi diam saja tidak akan memberi dampak apa-apa.

Maka, didirikanlah Bale Budaya Mahardika di bukit Hampelas. Gunung jadi panggung. “Kami berupaya mengingat nama-nama gunung yang sekarang sudah mulai menghilang. Seperti gunung Hampelas ini, kita lestarikan dengan dijadikan bale budaya. Melestarikan nama gunung lewat kegiatan budaya. Paling tidak kami berupaya untuk mengingatkan agar kembali ke bumi, jangan melangit. Mencintai alam sekitar. Kita pelihara ini buat anak cucu kita kelak,” beber Enko.

Ia melanjutkan, “Sehari-hari kami berkegiatan di sini. Menyelenggarakan berbagai pelatihan seni. Selain itu, membuat karya kreatif dari sampah agar bisa bernilai dan kegiatan ekonomi kreatif. Kita punya usaha budidaya jamur, ikan, ternak kambing, kelinci, dan ayam,” bebernya.

Menurut dia, usaha-usaha itu dirintis di atas lahan seluas dua hektar. “Kami sepakat untuk mengelola dan menjadikan tempat ini sebagai ruang publik. Ruang beraktivitas dan berkarya,” tandasnya. initasik.com|syamil

Komentari

komentar

Komentari

Komentari