Sosial Politik

Balita 16 Bulan Itu Merengek Saat Ibunya Menghitung Uang Hasil Mengemis

initasik.com, sospol | Sri Mulyani Wahyuni, balita berusia 16 bulan, terus merengek entah kenapa. Hanya menangis. Belum bisa bicara. Sementara ibunya, Mimin Rohayati, masih membereskan uang hasil dari mengemis.

Anaknya terus rewel, sampai ia dipangku ibunya. Diberi ASI. Tak butuh waktu lama, Sri akhirnya tertidur di pangkuan. Pulas. Tak terdengar lagi rengekannya. Sepertinya ia letih. Sedari pagi diajak ibu dan ayahnya, Warno, keliling kota untuk mengemis. “Ini anak paling kecil,” sebut Mimin saat ditanya initasik.com, Kamis, 8 Juni 2017.

Di siang yang panasnya sangat terik itu mereka sedang istirahat di depan rumah orang. Duduk di bawah tanpa alas. Mimin bercerita, ia dan suaminya sudah mengemis selama 11 tahun. Terkadang mengamen. Karaokean.

Selain Sri, mereka masih punya tiga anak lagi. Sri paling kecil. Kakak-kakaknya dititipkan ke pemilik kontrakan. Yang paling besar namanya Rusli Priatno, kelas 3 SD, disusul Eca Suryati, dan Abdul Susanto. Saat masih kecil, nasib mereka sama. Suka diajak mengemis atau mengamen. “Butuh untuk makan sehari-hari,” dalihnya.

Mimin dan Warno memang mengalami ketidaksempurnaan fisik. Mata Mimin tidak normal. Warno lebih parah lagi. Keduanya tidak bisa melihat. Kendati begitu, dalam mengemis atau mengamen, mereka termasuk cergas. Pagi-pagi sudah berangkat. Sehabis Subuh langsung beredar. Pulang-pulang sore, bahkan malam. Begitu setiap hari. Bertiga. Mimin, Warno, dan Sri.

“Sekarang sedang banyak yang mengemis juga. Kalau di sini sepi, saya ke daerah lain. Ke Singaparna, Ciamis, Banjar, atau ke Pangandaran. Suka naik bus kalau ke Pangandaran mah,” aku Mimin.

Sehari, mereka rata-rata dapat Rp 100 ribu. Di waktu-waktu tertentu, kadang lebih besar lagi. Sampai Rp 200 ribu. Lebih dari dua kali lipat UMR Kota Tasikmalaya. [Jay]