Kuliner

Bandros; Kudapan Tradisional yang Belum Tersentuh Inovasi Tapi Masih Disukai

Kabupaten Tasik | Bandros. Kudapan yang satu itu sangat familiar bagi kita. Telah ada sejak dulu, dan masih bertahan hingga sekarang. Dibanding makanan tradisonal lainnya, bandros masih bertahan dengan bentuk dan rasanya yang seperti itu sejak dulu.

Surabi, misalnya. Di banyak tempat, surabi sudah dibuat sedemikian rupa. Rasanya pun macam-macam. Bandros belum begitu. Dari dulu masih sama. Juga masih diburu para penikmatnya. Seperti yang terjadi pada suatu siang, di tempat wisata Pasir Kirisik Guranteng, Pagerageung.

Meski masih siang, langit di atas wilayah Kampung Guranteng mulai gelap. Mendung menggantung. Seorang lelaki tergopoh-gopoh membawa pikulan. Ia berhenti sejenak, setelah ada yang memanggilnya. ”Pak, beli bandrosnya. Lima ribu tanpa gula, lima ribu memakai gula,” pesan seorang pembeli bernama Santi, ditemani rekannya, Mulyani.

Dengan cekatan, Munir (63), penjual bandros, melayani pembeli. Pria kelahiran Cikatomas itu mengambil beberapa potong bandros dan dibungkusnya dengan kertas minyak. Ia mengaku sudah berjualan bandros selama sepuluh tahun lebih.

Munir menyebutkan, bandros terbuat dari adonan tepung beras dicampur santan kelapa ditambah garam secukupnya. Dibuat dalam cetakan loyang dengan api panas di bawahnya. Pengaruh garam membuat dominasi rasa gurih jajanan tradisional ini. Bagi penyuka rasa manis, biasanya cukup meminta sedikit taburan gula tebu di permukaan.

Ia mengaku tidak tahu pasti kapan bandros mulai ada di masyarakat. Dia yang hanya lulusan SD mengatakan, tak menguasai sejarah bandros itu. “Mungkin usia bandros lebih tua dari usia saya,” ujarnya. initasik.com|Udhan

Komentari

komentar

Komentari

Komentari