Peristiwa

Banyak Kepala Daerah Maniak Penghargaan

Kota Tasik | Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, tampak sumringah saat mengumumkan hasil survei penilaian atas kinerja pemerintahan daerah di Jawa Barat yang dilakukan Pusat Kajian dan Kepakaran Statistik (P2KS) Unpad.

Di sela sambutan peringatan Hari Kesehatan Nasional di halaman Bale Kota Tasikmalaya, Selasa, 17 November 2015, Budi menyebutkan, Kota Tasikmalaya berada di peringkat ketiga dalam hal tingkat kepuasan publik se-Jawa Barat. Posisi pertama diraih Kota Sukabumi, disusul Kabupaten Purwakarta.

Bagaimana dengan Bandung? Kota yang dinakhodai Ridwan Kamil itu ternyata tidak masuk dalam peringkat lima besar. Seperti dilansir laman unpad.ac.id, survei itu menilai enam aspek kinerja, yaitu infrastruktur, kepemimpinan, regulasi, pelayanan dasar, anggaran, dan sumber daya aparatur. Dari penilaian tersebut ada lima daerah dengan indeks kepuasan responden tertinggi, yaitu Sukabumi, Purwakarta, Tasikmalaya, Banjar, dan Bogor.

Kendati selama Ridwan Kamil memimpin Bandung sering mendapat jempol dari para netizen lantaran ide-ide segar dan gebrakannya, ternyata kemajuan Kota Kembang dinilai belum signifikan. Beberapa aspek, seperti renovasi pasar, peningkatan kesehatan, dan pendidikan belum disentuh dengan baik.

Padahal, terkait pasar, misalnya, di Kota Tasikmalaya pun masih menyimpan setumpuk persoalan. Para pedagang kaki lima yang difasilitasi dengan saung baja ringan, sehingga kian menyulitkan akses kendaraan ke dalam pasar, adalah salah satu contoh amburadulnya penataan pasar di kota ini. Belum lagi bicara soal lapak HPKP yang sampai sekarang masih sepi penjual, apalagi pembeli.

Karenanya, Asep M Tamam, pemerhati sosial Kota Tasikmalaya, mempertanyakan soal peringkat ketiga tersebut. ia menilai, seringkali penghargaan-penghargaan seperti itu tidak sejalan dengan penilaian masyarakat.

Menurutnya, tiap tahun pemda mendapat penghargaan ini dan itu, tapi tidak dirasakan oleh masyarakat. “Ada prestasi yang terbaca, terasa, dan terwacanakan. Umumnya, pemerintahan daerah di manapun selalu bersandar pada prestasi yang terbaca, tidak mengutamakan sesuatu yang terasa. Untuk Kota Tasikmalaya memang ada yang terasa, tapi yang terasa negatifnya jauh lebih banyak,” tutur Asep.

Ia menegaskan, mau peringkat ke berapapun, masyarakat tidak akan begitu peduli. Soalnya, penghargaan seperti itu banyak yang didorong oleh kepentingan pragmatis. “Banyak kepala daerah yang maniak penghargaan. Wali kota jangan terbuai oleh penghargaan seperti itu. Harus dibuktikan, dari yang terbaca menjadi yang terasa,” tandasnya. initasik.com|shan

Komentari

komentar