Etalase

Batu Bacan Sedang Naik Pamor

Kota Tasik | Belakangan, warga Kota Tasikmalaya tengah menggandrungi batu akik. Tiap hari orang-orang menyemut di penjual batu yang mangkal di trotoar jl. Pasar Wetan, dan sekitarnya. Mereka seperti tak kenal waktu. Malam hari pun jalan. Bukan hanya kalangan sepuh, kaum muda pun ikut meramaikan.

“Sejak tiga bulan lalu mungkin. Senang saja, karena unik. Batu ini kan benda mati, tapi warnanya bisa berubah-uabah. Makin tua makin bagus,” ujar Rangga Rasakti (24), saat ditemui di salah satu penjual batu akik, di jl. Pasar Wetan, 6 November 2014. Ia tidak sendiri. Teman-teman sebayanya banyak. Mereka terhimpun dalam komunitas batu akik Tasikmalaya (Kobat).

Uwes (42), pedagang batu di jl. Pasar Wetan, mengaku sudah tiga tahun berjualan batu akik. Namun, jualan di Tasikmalaya baru sekitar dua bulan. Sebelumnya mangkal di Jembatan Lima, Jakarta. Tapi, setelah para pedagang kaki lima ditertibkan Satpol PP Jakarta, ia pulang kampung.

Pria asal Ciledug, Tamansari, Kota Tasikmalaya, itu mengatakan, saat ini batu yang paling banyak dicari adalah jenis bacan dan blackoval. Pamornya sedang naik. Tak heran, harganya pun gila-gilaan. “Ada satu batu yang harganya mencapai Rp 100 juta,” ujarnya menyebut harga untuk jenis bacan.

Menurutnya, harga batu akik tidak ada patokan atau standar harganya. Semua kembali pada selera dan keberanian. “Kalau sudah suka pada satu jenis batu, berapapun harganya dibeli,” tandasnya, seraya menambahkan, omzet rata-rata perhari mencapai Rp 500 ribu.

Tendi, pecinta batu akik asal Indihiang, menambahkan, saat ini yang sedang jadi perbincangan di antara penyuka batu adalah jenis bacan. “Kalau dulu yang juara jenis kucubung. Sekarang bacan. Entah kenapa. Tapi sepertinya ini mirip bunga antarium dulu. Ada orang yang mengomporinya, sehingga terdengar besar,” duganya. initasik.com|ashani

Komentari

komentar