Peristiwa

Batu Bergambar Kepala Ular dan Peringatan Anton Charliyan

initasik.com, peristiwa | Sepasang tapak kaki di atas batu itu bentuknya nyaris sempurna. Persis bila kaki diinjakkan ke tanah liat atau adonan semen, lalu angkat. Begitulah bekasnya. Mirip. Lengkap dengan lekukannya.

Hey, bukan dua. Ternyata ada empat. Dua lagi terpisah. Satu-satu. Tidak sepasang, seperti yang di batu sebelah atas. Sepintas, sepasang tapak kaki di batu mahpar itu bekas orang salat. Di depannya ada gambar panah. Di samping tapak kaki itu ada aksara Sunda. Mengesankan kalau itu sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Benarkah?

Simpan dulu pertanyaan itu. Nanti cari sendiri. Mari jelajahi tempat eksotik yang ada di Sindangreret, Sukamulih, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya, ini. Perjalanan dilanjutkan ke ujung sungai. Ada air terjun. Kata warga, namanya Curug Manawah. Masih satu kompleks dengan bekas kaki di atas batu.

Dulu, saat pertama kali berkunjung ke sini, dua tahun lalu, belum ada jalan pintas menuju curug tersebut. Harus memutar. Melewati jalan setapak. Sekarang sudah ada tangga. Dibeton. Jaraknya pun dekat. Tidak harus memutar arah. Siapa yang membangun jembatan itu?

Tahan dulu jawabannya. Ayo turuni tangga. Di bawah ada air terjun yang menawarkan panorama indah. Hati-hati saat turun ke sungai. Belum ada tangga. Masih jalan berpasir campur lumpur. Di titik sebelum turunan ke sungai, sebelah kanan sedang dibangun gua. Penasaran. Buat apa gua yang ukurannya sekitar 9 x 4 meter itu.

Saat initasik.com melihat ke dalam gua, di dalamnya ada semacam mimbar tempat imam. Semua dasarnya dipasangi batu. Begitupun sebagian dindingnya. “Mungkin untuk wirid atau semacam semedi,” jawab salah seorang tukang yang sedang membangun tempat itu, Minggu, 15 Mei 2016.

Ia menyebutkan, pembuatan gua tersebut memakan waktu lebih dari tiga bulan. Selain kontur tanahnya yang liat, udara pengap dan rembesan air cukup menyulitkannya. “Makanya sekarang sedang dibuat lebih tinggi lagi supaya tidak pengap,” tambahnya.

Saatnya turun ke sungai. Di bawah ada air terjun yang sayang jika dilewatkan. Pemandangannya keren. Dinding tebing berpadu dengan hijaunya daun. Lukisan alam yang sempurna. Bagus juga buat foto-foto. Tapi jangan merusak apapun. Ada peringatan.

“Dilarang mengubah mengambil & merusak benda-benda di kawasan ini tanpa izin karena dalam status pengawasan & penelitian khusus,” begitu peringatan yang tertera dalam plat berwarna hitam tertanggal 1 Juli 2009. Di bawahnya ditulis: Kapolwil Priangan KBP Drs Anton Charliyan MPKN.

Dikonfirmasi melalui akun Facebook milik Anton Charliyan, pria kelahiran Tasikmalaya yang kini menjabat Kapolda Sulawesi Selatan Barat itu tidak menjawab. Ia tidak memberikan penjelasan untuk apa dan akan dibagaimanakan kompleks tersebut.

Soalnya di sungai ada batu bergambar kepala ular, buaya, naga, dan gambar mata. Asli dari alam atau buatan? “Kalau itu buatan. Diukir. Yang buatnya orang Garut,” jawab Kodir, warga setempat, yang mengaku pernah terlibat dalam pembangunan kompleks tersebut, sehingga tahu sejarahnya.

Ia menyebutkan, kompleks itu dibangun Anton Charliyan, termasuk pembuatan gua dan saung di bagian atas. “Tanahnya kalau engga salah milik adiknya. Namanya Pak Itan. Luasnya ada mungkin 300 bata. Tapi yang membangunnya Pak Jendral Anton,” ujar Kodir.

Ipan Iskandar, salah seorang pengunjung, berharap kompleks tersebut murni dijadikan tempat wisata. Dibiarkan alami. Tidak dibuat aneh-aneh, apalagi yang menyangkut tauhid, karena khawatir ada yang tergelincir. jaya

Komentari

komentar