Peristiwa

Beda Wartawan Dulu dan Sekarang

Kota Tasik | Salah, buang. Salah lagi, buang lagi. Selalu seperti itu jika sedang menulis berita. Padahal itu baru membuat teras berita. Baru lead. “Kertas-kertas berserakan di lantai sudah menjadi hal yang biasa,” kenang Syamsul Maarif, jurnalis pensiunan Pikiran Rakyat yang kini menakhodai Persatuan Wartawan Indonesia Perwakilan Tasikmalaya.

Ia menceritakan pengalamannya itu kepada initasik.com, di belakang rumahnya yang asri, Senin, 17 November 2014. Saat diterima bekerja di Pikiran Rakyat, 1983, ia mengaku tidak mahir menulis berita. Maklum, ia lulusan Manajemen Industri di Akademi Industri Niaga, Bandung. Salah satu alasan ia terjun ke dunia jurnalistik adalah karena hobinya pada fotografi. Lantaran kecintaannya pada dunia juprat-jepret itu, ia pernah jadi juara nasional dalam lomba foto berita feature pada 1989.

Kurangnya ilmu dan pengalaman menulis berita, membuatnya sering kesulitan saat akan merangkai satu peristiwa. Apalagi, waktu itu alat bantunya hanya mesin tik. Selain mengeluarkan suara berisik, mesin tersebut tidak secanggih komputer zaman sekarang. Jika salah menulis, kertas menjadi korban.

“Dulu, kalau liputan ke pinggiran suka bawa mesin tik. Jiga nu pundung we. Sekarang enak ada komputer. Kalau salah ketik tinggal backspase atau delete. Beres. Mau memindahkan paragraf atas ke bawah, atau sebaliknya, tidak ada masalah. Tinggal seret. Kalau dulu, jangankan diseret, mendelete pun tidak bisa. Masanya memang berbeda,” ujarnya.

Tak hanya di sana. Pencucian foto dan pengiriman dokumen pun punya cerita sendiri. Jika usai meliput di lapangan, Syamsul tidak bisa langsung pulang ke rumah. Ia harus merapat ke tukang cuci foto. Setelah itu baru mengirimkannya ke Bandung via elf atau kurir.

“Sekilas memang seperti ribet. Melelahkan. Memang zamannya seperti itu. Tapi selalu ada kebanggaan tersendiri jika karya kita dimuat di koran, apalagi disimpan di headline. Rasa lelah seolah terobati. Waktu itu kita benar-benar bangga menjadi menjadi wartawan. Beda dengan sekarang,” tandasnya.

Kenapa beda? Menurutnya, sekarang orang begitu mudah menjadi wartawan. Siapapun bisa. Mereka yang sama sekali tidak punya kompetensi pun bisa menjadi wartawan. Ke mana-mana mengaku wartawan sambil menenteng kartu pers, padahal tidak punya koran. Kalau pun ada, terbitnya tidak menentu. Parahnya, banyak di antara mereka yang mengintimidasi narasumber dengan dalih konfirmasi.

“Kalau oknum yang mengaku-aku wartawan dulu pun ada, tapi hanya satu-dua. Gampang dilacak, karena waktu itu jumlah wartawannya terbatas dan solid,” imbunya. Ia menyebutkan, berdasarkan laporan dari humas, saat ini wartawan yang ada di Kabupaten Tasikmalaya tercatat ada 392 orang dengan 123 media cetak dan elektronik. Sedangkan di Kota Tasikmalaya wartawannya mencapai 280 orang dengan 208 media massa. initasik.com|ashani

Komentari

komentar