Sosial Politik

Begitulah Cara Para Berandalan Dinding Mendapat Pengakuan

initasik.com, sosial | Uyung Aria, tokoh muda yang aktif dalam melawan vandalisme di Kota Tasikmalaya, menyebut para tukang curat-coret tembok itu sebagai berandalan dinding. Kelakuannya memuakkan. Ia pun sering dibuat jengkel oleh mereka yang usianya rata-rata masih remaja.

Satu di antara sekian banyak kejengkelannya adalah pencoretan dinding di Jl. Dewi Sartika yang sebelumnya telah dilukis oleh para seniman bersama Ma Iyah, pelukis payung geulis. Ada juga aksi keterlaluan mereka, yaitu mengotori dinding masjid.

Untuk menghentikan aksi yang tidak bertanggung jawab itu, Uyung dan rekan-rekannya sering “memburu” pelaku dengan disebar di media sosial. Banyak yang “tertangkap”. Salah satunya pelaku pencoretan dinding masjid. Ia diberi sanksi. Bukan penjara, tapi harus Jumatan selama sebulan penuh di masjid tersebut.

“Mereka itu memang bukan pelukis mural. Kita sudah mengajak teman-teman pelukis untuk memberikan pelatihan, tapi ternyata para pelaku vandalisme itu tidak tertarik. Mereka itu memang senangnya begitu. Hanya curat-coret, menuliskan namanya di dinding,” tutur Uyung.

Menurutnya, aksi vandalisme itu merupakan cara para berandalan dinding untuk mendapatkan pengakuan. “Mereka ingin punya sesuatu yang bisa dibanggakan, tapi sayangnya tidak melalui jalan positif. Ada semacam keyakinan, anak jagoan itu yang bisa melanggar hukum, salah satunya mencurat-coret fasilitas publik dengan tidak tertangkap,” terangnya.

Itu diketahuinya dari para pelaku yang “tertangkap”. Malah tidak sedikit di antara mereka yang terpaksa berbuat itu lantaran tidak punya pekerjaan. Solusinya, Uyung menitipkan mereka kepada kenalannya yang bisnis kuliner.

“Kita harus duduk bersama. Menyelesaikan masalah ini tidak bisa diatasi satu dua orang. Perlu kerja sama semua pihak. Dan kita tidak bisa menoleransi kalau itu merupakan kenakalan remaja, sehingga dibiarkan. Awal mula kejahatan adalah kenakalan remaja yang tidak bisa dihentikan,” tandasnya. [Jay]

Komentari

komentar