Inspirasi

Belajar Sabar dari Mang Ujang

Kota | Tidak bisa berjalan. Anak delapan, plus dua cucu. Istri pun harus dinafkahi lahir-bathinnya. Sehari, untuk memenuhi kebutuhan hidup perlu biaya Rp 200 ribu. Bagaimana Abdul Rahman memenuhinya, sementara penghasilan tetap tidak ada?

“Terima apapun yang diberi Allah Ta’ala. Hormati orang tua, dan hidup jangan pernah keluar dari aturan agama,” jawab Mang Ujang, panggilan akrab Abdul Rahman, saat disodorkan pertanyaan itu, pada satu kesempatan.

Pria kelahiran Tasikmalaya, 19 Agustus 1967, yang tinggal di Cisalak 04/13, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, itu menuturkan, pada 2009 lalu, ia diundang untuk menjadi pembicara dalam acara reunian alumni Universitas Gajah Mada (UGM) dan memenuhi panggilan Sri Sultan Hamengku Buwono X.

“Di UGM, saya berbicara selama 15 menit. Di antara mereka ada yang bertanya, bagaimana caranya saya bisa enjoy menjalani hidup dengan keadaan seperti ini?” ujar Mang Ujang sembari mengusap kakinya yang tidak berfungsi semestinya.

Menurutnya, salah satu kunci agar hidup yang penuh cobaan ini bisa dijalani dengan tenang dan menyenangkan adalah ikhlas. Jika sudah ikhlas, katanya, insyaAllah timbul percaya diri, sehingga melahirkan kreativitas.

Selain itu, sambungnya, sabar. Ia mengaku jarang mengeluh lantaran dunia. “Saya sering curhat sama Alla Ta’ala. Saya katakan, ‘Ya Allah, saya terima diberi kondisi kaki seperti ini, tapi saya minta jangan sampai kalah oleh orang yang sehat. Berikan saya ketenangan hati’,” tandas suami Tika Kartika itu.

Ia meneruskan, “Saya jarang menangis karena dunia. Ke istri sering bilang, jangan pernah menangis karena dunia. Jangan melamunkan kehidupan. Jalani saja. kalau pun mau menangis, menangislah karena dosa.”

Diceritakannya, saat berusia empat tahun, musibah menimpanya. Kompor minyak yang sedang dinyalakannya ujug-ujug meledak. Ia tidak sempat meloncat, sehingga kedua kakinya lumpuh sampai sekarang. Beruntung Mang Ujang punya orangtua yang selalu memberinya semangat hidup. Gurunya di Ponpes Annur Jarnauziyyah, KH Aep Saepudin Ahmad, pun tak pernah lelah membimbingnya.

Kini, sehari-hari ia hanya diam di rumah, sambil mengajar anak-anak di madrasah Nurul Ghoffar. “Dulu, waktu mau membangun madrasah ini, saya hanya punya uang Rp 12.000. Sedangkan yang diperlukan sekitar Rp 150 juta untuk dua lantai. Ah, kembalikan saja pada Allah. Saya yakin Allah akan memberi jalan keluar. Alhamdulillah sekarang madrasahnya sudah digunakan,” tandasnya. initasik.com|ashani

Komentari

komentar