Informasi

Benarkah tidak Ada Warga Keturunan Cina Berdagang di Singaparna?

initasik.com, informasi | Singaparna hanya untuk pribumi. Seolah, begitu aturan tidak tertulis di ibu kota Kabupaten Tasikmalaya itu. Sampai sekarang, di sana sulit untuk mencari toko yang pemiliknya warga keturunan Cina. Beda dengan daerah lain. Di Kota Tasikmalaya, misalnya, toko-toko mas dan pusat perbelanjaan terbesar adalah milik keturunan Cina.

Tapi tidak demikian dengan Singaparna. Coba perhatikan dari mulai Kudang sampai Alun-alun Singaparna. Meskipun merupakan pusat perdagangan, sulit ditemukan warga keturunan Cina. Toka mas yang biasanya didominasi engkoh-enci, di Singaparna tidak begitu.

“Toko mas banyak. Minimarket dan yang lainnya juga ada. Tapi semua milik pribumi,” sebut Alwi Patoni, kasi Pemerintahan Desa Sukamulya, Kecamatan Singaparna, saat dikonfirmasi initasik.com, beberapa waktu lalu.

Bukan hanya di jalur perdagangan, warga di Desa Sukamulya semuanya pribumi. Tidak ada keturunan Cina. Begitupun di Desa Cipakat dan Desa Singaparna. Sekadar informasi, pusat perdagangan dari mulai Alun-alun sampan Kudang masuk ke tiga desa, yaitu Desa Singaparna, Sukamulya, dan Desa Cipakat.

Terpisah, Kasi Pemerintahan Desa Singaparna, Abas, menyebutkan, “Dulu ada warga Cina yang punya toko di sini. Tapi dia muslim. Sekarang kalau tidak salah sudah tidak jualan lagi. Bahkan bank BCA pun pernah ada, tapi tutup. Tidak tahu kenapa.”

Ia mengaku pernah iseng mengajak warga keturunan Cina untuk terang-terangan jualan di Singaparna. Namun, semua menolak. Malah ada yang merespons dengan bergidik, saking tidak maunya.

“Menurut pengakuan warga, kalau memberi izin kepada warga Cina untuk membangun di sini (Singaparna), takut disusupi misi tertentu. Makanya mereka sangat sulit memberi izin warga,” tandasnya.

Alwi dan Abas mengatakan, sebenarnya tidak ada aturan, seperti peraturan desa atau peraturan daerah, yang mengatur soal itu. “Mungkin sudah jadi semacam hukum adat. Tidak ada peraturan desa yang menyatakan warga Cina dilarang jualan di sini,” tandas Alwi.

Mereka menambahkan, bisa saja sekarang ini ada warga keturunan Cina yang berbisnis di Singaparna. Caranya sembunyi-sembunyi. Pemilik modalnya orang keturunan, tapi yang mengelolanya warga pribumi.

Ajid, penarik becak yang biasa mangkal depan Pasar Singaparna, meyakinkan, sepengetahuannya memang tidak ada warga keturunan Cina yang berdagang di Singaparna. “Abdi kana beca di dieu tos ti taun 75. Sauninga mah teu aya Cina hiji-hiji acan di dieu. Duka kunaon,” tandasnya. [Jay]