Birokrasi

Beras Organik Kabupaten Tasik Diekspor untuk Sejahterakan Petani

Kabupaten Tasik | Langkah Pemkab Tasikmalaya mengekspor beras organik ke beberapa negara Eropa dan Amerika dikritisi beberapa warga. Mereka menyayangkan hal itu, karena beras kualitas bagus dijual ke luar negeri, sedangkan rakyat sendiri makan raskin.

“Justru kami menjual beras organik ke luar negeri untuk meningkatkan kesejahteraan para petani. Toh, di Kabupaten Tasik tidak kekurangan beras,” terang Bupati Tasikmalaya, Uu Ruzhanul Ulum, usai panen raya padi organik di Cantilan, Desa/Kecamatan Sukarame, Selasa, 21 Maret 2017.

Menurutnya, kesejahteraan para petani harus meningkat. Untuk itu pihaknya memfokuskan pertanian sebagai salah satu target keberhasilan selama kepemimpinannya. “Saya ingin para petani sukses. Punya rumah megah dan mobil mewah. Makanya harus punya kemauan dan keberanian. Paradigma petani harus berubah,” tandasnya.

Salah satu bentuk kemauan dan keberanian itu di antaranya menggeser pola pertanian dari kimia ke organik. Selain harga jualnya lebih mahal dibanding beras biasa, menanam padi organik juga ramah lingkungan.

“Saya merasa bangga di Kabupaten Tasik banyak pertanian padi organik. Ini memang sudah dicananangkan sejak dulu, dan di masa kepemimpinan saya hasilnya kelihatan. Sudah banyak padi organik yang diekspor ke luar negeri,” imbuhnya.

Atas keberhasilan dalam pertanian, sambung Uu, Pemkab Tasikmalaya telah tiga tahun berturut-turut mendapatkan penghargaan dari Menteri Pertanian, karena berhasil meningkatkan produksi gabah kering di atas lima persen per tahun. Ia diberi peniti emas.

“Pada bulan Mei nanti kami diundang ke Aceh untuk mendapatkan penghargaan Satyalencana dari presiden, karena berhasil dalam bidang pertanian. Saya ucapkan terima kasih kepada para petani yang sudah membawa harum Kabupaten Tasik,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Mohammad Zen, menambahkan, setiap tahun pihaknya menargetkan penambahan seribu hektar budidaya padi organik. Untuk sertifikasi, ia mengusulkan tiap tahunnya ada 50 hektar s.d. 100 hektar. “Harga beras organik yang diekspor itu antara Rp 22 ribu sampai Rp 25 ribu,” sebutnya. initasik.com|is/adv

 

Komentari

komentar