Syaepul | initasik.com
Etalase

Berawal dari Ranting Pohon, Usaha Arang Basri Jadi Andalan Keluarga

initasik.com, etalase | Awalnya cuma sampingan. Di sela waktu luang, Basri mencari ranting-ranting pohon untuk dibuat arang. Setelah jadi, dibungkus pakai keresek hitam. Lalu dijual Rp 700 per kilogram. Itu dulu. Tahun 1950-an.

Warga Surupan, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, itu menjajakan arang ke kampung-kampung, sambil menawarkan tikar mendong buatan istrinya. Namun, setelah mendongnya sepi, Basri menjadikan pembuatan arang sebagai usaha pokok.

Pria berusia 84 tahun itu mengatakan, usaha areng ternyata memberikan peluang bagus. Malah, sekarang jadi andalan keluarga. Lantaran fisiknya tidak sekuat dulu, usaha itu kini dijalankan cucunya, Saepul Muslim bersama istrinya.

Polanya pun berbeda. Dulu, Basri membuat arang sendiri. Sekarang membeli warga sekitar yang membuat arang juga tapi tidak bisa memasarkan. Dalam dua minggu bisa menghimpun tiga ton arang kayu.

Dari warga, arang itu dibelinya Rp 1.500 kg. Bersih. Tanpa dipotong apapun. Oleh Saepul, itu dijual ke pasar Rp 2.400 per kg. Seminggu sekali ia mengirim ke pasar Cikurubuk, Cihideung, dan Cihaurbeuti (Ciamis). Setiap kirim, ia biasanya dapat uang Rp 2,5 juta.

Menurutnya, arang kayu ketika digunakan sebagai bahan bakar akan menghasilkan bara api yang bagus dan asap yag tidak banyak, sehingga tidak berpengaruh terhadap rasa makanan. Itu tergantung bahan baku yang digunakan. Kayu yang bagus misalnya pohon rambutan, pisitan, atau dukuh.

Salah satu masa panen jualan adalah waktu Idul Adha dan Idul Fitri. Permintaan melonjak. Bersyukur, Saepul sudah bisa membeli mobil bak untuk pengiriman. Tidak lagi jalan kaki, seperti kakeknya dulu. [Syaepul]