Warga Cukang, Tanjung, Kawalu, Kota Tasikmalaya tengah melayani masyarakat yang membeli air tanjung, Selasa, 4 Juni 2019.
Informasi

Berawal dari Sini, Kupat Tanjung Menjadi “Warga” Baru di Setiap Lebaran

initasik.com, informasi | Makanan apa yang hampir dipastikan ada di setiap rumah saat Hari Raya Idul Fitri? Jawabannya adalah ketupat dan opor ayam atau lauk pauk lainnya. Apapun lauknya, ketupat selalu ada.

Di Kota Tasikmalaya, sudah beberapa tahun terakhir ini ada ketupat dengan rasa berbeda. Rasanya lain dari ketupat pada umumnya. Teksturnya kenyal dan lebih tahan lama, bisa sampai lima atau tujuh hari.

Ketupat yang satu ini seolah telah menjadi warga baru di saat lebaran tiba, karena kerap bersanding dan bersaing dengan ketupat biasa yang dijual di pasar-pasar. Harganya pun lebih mahal dibanding ketupat biasa, yakni antara Rp 2.500 sampai Rp 4.000, tergantung ukuran besar kecilnya.

Namanya kupat tanjung. Dinamakan kupat (ketupat) tanjung, karena air yang digunakan untuk memasak ketupatnya berasal dari daerah Tanjung, tepatnya Cukang, Kelurahan Tanjung, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya.

Iman Hermansyah, Ketua RT 03/05 Cukang, mengatakan, air tanjung yang memiliki sedikit rasa asin ini sudah ada sejak lama, namun baru digunakan untuk memasak ketupat pada tahun 2000an awal.

Setiap menjelang lebaran, di daerah Cukang ini selalu ada kesibukan lain. Mirip saat sedang membagikan air bersih seperti yang biasa dilakukan pada musim kemarau. Banyak warga yang sengaja datang ke tempat ini untuk membeli air tanjung yang akan digunakan untuk memasak ketupat. Pembelinya bukan hanya warga sekitar, tapi ada yang dari luar Kota Tasikmalaya, seperti dari Kabupaten Tasikmalaya, Garut, dan Bogor.

Iman menjelaskan, di Cukang ini ada lima sumur air tanjung yang ditampung di dalam toren atau bak, kemudian dijual kepada masyarakat umum. Untuk jerigen ukuran 5 liter, misalnya, air dijual lima ribu rupiah. Kalau ukuran jerigennye lebih besar, tentu harganya lebih mahal, bisa mencapai Rp 20 ribu.

Disebutkan, penghasilan dari penjualan air selama Ramadan ini untuk satu sumur bisa terkumpul Rp 10 juta. Uang itu tidak masuk ke saku pribadi, tapi dibagi-bagi sesuai kesepakatan yang telah dibuat bersama Karang Taruna setempat.

Dede Rudi, warga setempat, menambahkan, dari satu sumur dalam sehari semalam bisa disedot airnya sampai dua ribu liter, dan uniknya sumur air tanjung ini tidak pernah kering kerontang. Padahal, selain dijual di dekat sumur-sumur yang merupakan mata air, air tanjung ini juga dijual di pinggir jalan. Sedikitynya ada 27 pedagang air tanjung di sepanjang jalan menuju sumur mata air tanjung.

Selain untuk memasak ketupat, air tanjung air bisa juga digunakan mencampur adonan gorengan, seperti bala-bala atau gehu, dan rasanya pun jadi berbeda dari biasanya. Di luar Ramadan, air tanjung ini lebih sering dipakai untuk berendam, karena diyakini bisa menyembuhkan berbagai masalah di badan, seperti penyakit kulit atau lumpuh. [jay/initasik.com]