Ilustrasi Tentara Mataram di bawah kendari Sultan Agung | Ist
Historia

Berdirinya Kabupaten Sukapura

Oleh: Muhajir Salam, peneliti Soekapoera Institute

initasik.com, historia | Sukakerta adalah cikal bakal Kabupaten Sukapura. Ibu kotanya di Dayeuh Tengah, Salopa, yang merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Sunda-Pajajaran, berpusat di Pakuan. Penguasa pertama Sukakerta adalah Sri Gading Anteg yang hidup semasa Prabu Siliwangi bertahta di Pajajaran.

Pada 1579 Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh. Sejak itu, Sukakerta dan kerajaan Sunda kecil lainnya berhimpun di bawah kekuasaan Sumedang Larang. Pada masa Gesan Ulun berkuasa, Sukakerta dan kerajaan kecil lainnya terhimpit tiga kekuatan besar, yaitu oleh Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten, dan Kesultanan Mataram.

Di antara tiga kekuatan besar tersebut, Kesultanan Mataram adalah kekuatan yang paling diwaspadai oleh Sumedang Larang. Pasalnya, Sultan Agung yang mulai bertahta di Mataram pada 1613, sangat berambisi untuk menguasai Tatar Sunda. Prediksi tersebut benar.

Pada 1620 Sumedang Larang berhasil ditaklukkan dan menyerahkan kekuasaannya kepada Mataram. Semenjak itu, Sukakerta pun berubah status menjadi koloni Mataram setingkat oemboel.

Ambisi Sultan Agung untuk menguasai seluruh wilayah Jawa bagian Barat berlanjut ke Banten dan Batavia sebagai dua wilayah yang belum berhasil ditaklukkan. Ketegangan antara Mataram dengan VOC pun menjadi faktor yang menyebabkan Sultan Agung sangat menginginkan untuk menguasai Batavia.

Maka, pada 1628, Sultan Agung memerintahkan Wedana Bupati Priangan, Dipati Ukur, beserta 11 oemboel bawahannya untuk melakukan penyerangan ke Batavia melalui jalur darat. Sedangkan jalur laut dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso beserta 10.000 pasukan Mataram. Penyerangan jalur darat dan laut rencananya akan dilakukan secara serentak.

Dalam perjalanan menuju ke Batavia, terjadi polemik di tengah pasukan Dipati Ukur yang memutuskan untuk berangkat terlebih dahulu dan memilih menunggu pasukan Bahurekso di daerah Karawang.

Selama hampir seminggu pasukan Bahurekso belum juga tiba, sementara pasokan logistik semakin menipis. Dipati Ukur memutuskan untuk melakukan penyerangan ke Batavia tanpa menunggu armada laut Bahurekso.

Empat oemboel yang tergabung dalam pasukan, yaitu Ki Wirawangsa dari Sukakerta, Ki Samahita dari Sindangkasih, Ki Astamangala dari Cihaurbeuti, dan Uyang Sarana dari Indihiang menentang keputusan Dipati Ukur.

Pasalnya keputusan Dipati Ukur merupakan makar terhadap keputusan susuhunan Mataram. Selain itu, pasukan Banten dan VOC memiliki kekuatan militer yang lebih kuat.  Ki Wirawangsa berpendapat, jika aksi penyerangan itu tetap dilakukan dan balatentara Sunda menderita kekalahan, maka  para oemboel beserta rakyatnya akan menanggung risiko yang sangat besar.

Perkiraan Ki Wirawangsa benar. Balatentara Dipati Ukur mengalami kekalahan. Akibat gagal merebut Batavia, 1630, Dipati Ukur beserta ribuan balatentaranya ditangkap dan dihukum Sultan Agung di Mataram.

Setelah tragedi Ukur, Sultan Agung melakukan reorganisasi kekuasaan Mataram di wilayah Priangan. Sukakerta yang awalnya kekuasaan setingkat oemboel, berubah menjadi Sukapura yang kekuasaanya setara dengan Kabupaten.

Berkat jasa dan keberanian Ki Wirawangsa, 26 Juli 1632, Sultan Agung mengangkatnya menjadi Mantri Agung Bupati Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha yang berkedudukan di Sukaraja.

Rakyat menyambut gembira atas terbentuknya Kabupaten Sukapura, karena Sultan Agung memberikan kemerdekaan penuh bagi rakyat Sukapura. Selama tujuh turunan, Rakyat Sukapura tidak perlu membayar upeti kepada Sultan Mataram. Ketentuan itu berlaku untuk seluruh wilayah kekuasaan Kabupaten Sukapura, meliputi Pagerbumi, Cijulang, Mandala, Kelapa Genep, Cipanaha, Lingga Sari, Cigugur, Parakan Tilu, Maroko, Parung, Karang, Bojongeureun, Suci; Panembong, Cisalak, Nagara, Cidamar, Saunggantang, Taraju, dan Malangbong.

Pada 1674, R. Tumenggung Wirawangsa wafat. Sepeninggalnya, roda pemerintahan Kabupaten berdiri kokoh, berganti generasi selama hampir empat abad, sampai saat ini. ***