Neni Sholihat, M.Psi | Jay/initasik.com
Informasi

Berkaca pada Kasus-kasus Ini, Orangtua Harus Lebih Awas

initasik.com, informasi | Ada banyak kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak di Kota Tasikmalaya yang tidak mengemuka ke permukaan. Pelaku dan korbannya di bawah umur. Masih usia sekolah dasar. Lebih mirisnya, itu antara lelaki dan lelaki. Anak sepuluh tahun menyodomi anak delapan tahun.

Itu baru satu. Kasus seperti itu jumlahnya sudah puluhan. Ada juga, misalnya, anak berusia tujuh tahun menyodomi rekan sebayanya. Setelah ditelusuri, pangkal dari semua kejadian itu muaranya adalah pornografi. Anak-anak yang melakukan itu mengaku terpengaruh oleh tayangan-tayangan asusila dari telepon seluler yang terkoneksi ke internet.

Neni Sholihat, M.Psi, psikolog yang juga dosen di salah satu perguruan tinggi di Kota Tasikmalaya, menjelaskan, saat ini pornografi telah menjadi virus yang sama bahayanya dengan narkoba.

“Semua terjadi karena pengaruh ‘narkoba’ lewat mata. Pornografi dan pornoaksi. Sebenarnya anak-anak kecil kebutuhan seksualnya belum ada, tapi dipaksa keluar oleh ‘narkoba’ lewat mata itu. Kebutuhan seksualnya dirangsang secara paksa oleh tayangan porno dari internet. Sekali anak mengakses konten pornografi, syaraf seksualnya on. Jika sudah on, tidak bisa dioffkan, kecuali dikendalikan,” tuturnya.

Ia menyarankan, orangtua jangan dulu memberi anaknya telepon seluler yang bisa mengakses internet. Kalaupun butuh untuk komunikasi, cukup memberinya ponsel yang hanya bisa telepon dan kirim pesan singkat.

Jika terpaksa harus memberikan anak-anak ponsel pintar, berlakukan syarat dan ketentuan. Misalnya, anak boleh diberi ponsel, tapi orangtua harus mengetahui kata kuncinya, sehingga kapan saja bisa mengakses ponsel yang dipegang anak. Itu bagian dari upaya kontrol.

Menurutnya, belum waktunya anak-anak kecil diberi kebebasan mengakses internet, apalagi itu bisa dilakukan melalui ponsel. Efeknya sangat di luar dugaan. Terlebih tayangan-tayangan di televisi banyak yang tidak mendidik.

“Orangtua yang harus mengendalikan tayangan apa saja yang baik dan tidak baik ditonton anak-anak. Remote controlnya ada di tangan kita. Matikan jika tayangan tersebut tidak baik untuk anak. Tapi jangan pula anak dilarang menonton televisi tanpa menyediakan alternatifnya. Anak tidak boleh menonton televisi, tapi ajak main di lapangan sama ayahnya atau sediakan buku-buku bacaan yang menarik,” beber Neni.

Ia menegaskan, komunikasi langsung dan sentuhan kasih sayang antara orangtua dengan anak sangat penting. Sayangnya, di zaman yang serbacanggih seperti sekarang, hal itu menjadi barang langka.

Media sosial, misalnya, telah mereduksi kontak personal dan kehangatan di keluarga. Ceritanya ke luar rumah untuk makan bersama, tapi yang terjadi masing-masing anteng dengan telepon selulernya. Tidak terjadi komunikasi yang baik. Ada bersama tapi tidak bersama-sama.

Orang-orang menjadi solitare. Semakin menyendiri. Tidak ada kebersamaan. Sentuhan fisik di antara keluarga berkurang. Sibuk dengan dunianya sendiri. “Ada remaja wanita yang kenalan dengan seorang pria di Facebook. Mereka lantas ketemuan. Dua kali bertemu, hamil. Lapor polisi, tapi tidak bisa melacak siapa pria tersebut, karena memang tidak kenal dengan baik” ujar Neni.

Untuk menghidari hal-hal seperti itu, ia menegaskan, kontrol keluarga sangat diperlukan. Jangan mentang-mentang punya banyak uang, lantas memanjakan anak dengan segala fasilitas, termasuk memberinya ponsel pintar.

“Kehadiran orangtua di tengah anak-anak sangat penting. Anak perlu vitamin A ayah, dan vitamin B bunda. Sentuhan fisik itu penting. Bangun komunikasi yang baik di antara anggota keluarga. Kalau orangtuanya sibuk sekali, pastikan setiap hari libur untuk keluarga. Jauhkan gadget,” tandasnya. [Jay]