Historia

Berkaca pada Kerusuhan Tasikmalaya, 19 Tahun Silam

Kota Tasik | Kamis, 26 Desember 1996. Ribuan orang berkumpul di Masjid Agung Tasikmalaya. Mereka menggelar doa bersama dan menuntut agar polisi minta maaf secara terbuka, karena telah menyiksa Ustaz Mahmud dan santri pesantren Condong.

Massa menyemut di depan markas Polres Tasikmalaya, Jl Yudanegara, dan Hazet. Entah siapa yang mengomando, sebagian dari mereka merusak dan membakar pertokoan. Kerusuhan pecah. Gereja, kantor polsek, dan pos polisi pun jadi sasaran amuk mereka. Tasikmalaya membara. Di berbagai sudut kota, tembok dan toko banyak ditulisi “Muslim”.

Tempo dan Republika melaporkan, kerusuhan itu terjadi bukan semata karena ada ustaz dan santri yang disiksa polisi, dan diisukan meninggal dunia, meski kabar meninggal itu bohong. Itu merupakan penyulut. Ada hal lain yang menggerakkan amarah warga, yaitu terjadinya kesewenang-wenangan dan kesenjangan sosial. Pribumi jadi tamu di rumah sendiri. Konglemerat meraja. Rakyat melarat.

Ketua Bina Sektor Informal Tasikmalaya, Tatang Setiawan, seperti ditulis Tempo awal 1997, menilai, pecahnya kerusahan itu disebabkan juga oleh kekecewaan masyarakat yang secara ekonomi tergilas oleh pengusaha bermodal besar.

Sejak lama, katanya, warga Tasikmalaya dapat hidup layak dengan berusaha di sektor kredit, bordir, anyaman, dan peternakan. Namun, setelah masuknya konglemerasi, masyarakat jadi terpinggirkan.

Hal senada disampaikan Amien Rais, yang saat itu masih menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Menurutnya, kerusuhan terjadi karena tidak tahannya rakyat menghadapi kesewenang-wenangan dan kezaliman ekonomi yang telah berlangsung cukup lama. Kezaliman itu bermula dari tiga penyakit kronis, yaitu korupsi yang melembaga, kesenjangan sosial yang makin gawat, dan perilaku buruk para pejabat.

Anggota Komnas HAM, Albert Hasibuan, seperti dilaporkan Republika, mengatakan, kerusuhan itu ada kaitannya dengan kesenjangan sosial dan ketimpangan dalam pengambilan kebijakan publik yang dilakukan Pemda. initasik.com|shan

Foto: Syamsul Maarif, Pikiran Rakyat

Komentari

komentar