Wafa, siswa kelas 4 SDN Cipanas | Eri/initasik.com
Edukasi

Berkunjung ke Sekolah Dasar di Kaki Gunung Galunggung

initasik.com, edukasi | Andika Pratama Gustian, siswa kelas 3 SDN Cipanas, Kampung  Citunggul, Desa Linggajati, Kecamatan Sukaratu, memilih berjalan kaki untuk berangkat-pulang sekolah.

Padahal, jaraknya lumayan jauh. Sekitar dua kilometer. Pergi-pulang jadi empat kilometer. Sekali jalan menghabiskan waktu setengah jam. Namun, ia senang melakukannya. “Supaya sehat, melatih kaki agar lebih kuat,” ujarnya tertawa. Kendati begitu, sesekali ia suka naik angkutan umum.

Selain cerita Andi yang lebih suka memilih berjalan, sekolah yang berada di kaki Gunung Galunggung itu punya banyak prestasi. Salah satunya didapatkan Galang Saputra yang menjadi juara catur tingkat Kabupaten Tasikmalaya.

Siswa yang kini duduk di kelas lima itu mengaku jadi suka main catur setelah melihatnya kakaknya juara dalam olahraga putar otak itu. “Setelah melihat kakak jadi juara, saya termotivasi ingin seperti itu,” ujarnya.

Awalnya, ia bermain catur biasa dengan temannya. Kalah. Galang tak bisa menahan serangan musuh. Akhirnya, ia memutuskan untuk belajar kepada kakaknya, Arif Saepulloh. Bahkan, kini ia rutin melatih dan mengasah strategi caturnya bersama sang ayah, Samu Andrianto. “Latihan rutin setiap Jumat dan Minggu,” imbuhnya.

Ia menyebutkan, dalam bermain catur, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu jangan mengambil langkah secara terburu-buru, jangan memberikan peluang pada lawan untuk mendekati raja, dan tetap fokus pada permainan.

Selain Gilang, salah satu siswa SDN Cipanas yang berprestasi adalah Wafa. Ia pandai menghitung dengan cepat dan tepat. Di papan tulis ada soal matematika. Penjumlahan. Di sana tertulis 87+7 = dan 48+8 =.

Wafa, siswa kelas 4 SDN Cipanas, Sukaratu, bisa menjawab soal itu dengan cepat, dan juga tepat. Saat ditanya, rupanya ia merupakan dapat prestasi dalam lomba calistung tingkat kecamatan.

Dara yang tinggal di Kp. Sindanghurip, Desa Linggajati, Kecamatan Sukaratu, itu mengaku senang bisa menjadi juara. Namun semua itu perlu kerja keras. Keuletan dan ketekunan merupakan hal yang penting.

Saat perlombaan calistung, ia menyebutkan, lomba membaca adalah hal tersulit bagi dirinya. Menurutnya, saat lomba membaca, pelapalannya harus jelas. “Suaranya juga harus jelas, cepat, sedangkan tanda bacanya banyak,” ujarnya tersenyum. Saat perlombaan, ia harus membacakan kisah Malin Kundang.

Sementara itu, Yola Rahma Ismaya punya cerita berbeda. Ia yatim piatu. Sejak kecil ditinggal pergi orangtuanya. Ibu Yola menghembuskan napas terakhir saat melahirkan dirinya. Sedangkan ayahnya, meninggal saat Yola masih balita, lantaran terkena penyakit kronis.

“Kalau masih ada, masih bisa melihat wajahnya, saya akan memeluk mereka berdua, dan tak akan melepaskannya lagi. Takut mereka pergi lagi,” ujarnya dengan terbata-bata. Matanya sedikit berkaca-kaca.

Kini, ia tinggal bersama neneknya di kampung Linggajati, Desa Linggajati, Kecamatan Sukaratu. Setiap pulang sekolah  Yola jarang bermain. Ia bergegas ke Cipanas Galunggung, membantu neneknya jualan baju di Obyek Wisata Gunung Galunggung.

“Saya suka sedikit sedih ketika melihat anak seusia saya diajak bermain di obyek wisata. Makan bakso, disuapi, dan dibelai-belai rambutnya oleh ibunya. Jika melihat pemandangan itu saya suka ngga sadar melamun,” tuturnnya.

Gadis yang memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dokter itu memiliki prestasi yang baik di sekolah. Selalu masuk sepuluh besar. “Jadi dokter kan harus pinter, makanya harus rajin belajar,” ucapnya.

Ia menyebutkan, bahwa terkadang dalam hatinya sedih tatkala melihat rekan sebayanya bisa merasakan perhatian dan kasih sayang dari seorang ibu. Terlebih kesehariannya di Obyek Wisata, tak jarang ia melihat tentang kehangatan keluarga yang sedang rekreasi disana. [Eri]