Jay | initasik.com
Informasi

Bertani Organik; Merawat Kelestarian Alam, Menghadang Perusakan


initasik.com, informasi | Sebelum 1970, para petani di Indonesia tengah asyik menanam padi dan yang lainnya dengan cara alami. Bertani organik. Namun, memasuki era 70-an pola tanam mulai diubah. Para petani “diracuni” pupuk kimia dengan dalih untuk swasembada pangan.

“Memang, waktu itu swasembada pangan tercapai, tapi hanya seketika. Proses pertanian dirangsang dengan bahan-bahan kimia, sehingga terjadi percepatan. Namun malah ketergantungan. Itu terjadi sampai hari ini,” terang Aep Saepudin, petani asal Kampung Citeureup, Desa Sukapada, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya.

Menurutnya, sampai sekarang para petani masih banyak yang ketergantungan terhadap bahan-bahan kimia. Padahal dampaknya sangat berbahaya. Selain merusak kesuburan tanah, juga mengancam kesehatan.

“Sekarang ini tanah kita sudah sakit, karena banyak diberi bahan-bahan kimia. Sadar tidak sadar, ketika petani menaburkan racun melalui pupuk kimia, mereka sedang merusak alam. Di sekeliling tanah yang ditabur pupuk kimia itu akan mati ribuan makhluk hidup yang mati. Kubikan tanah jadi rusak. Ketika tanah rusak, tanam-tanaman tidak akan tumbuh subur. Untuk memulihkannya, kita perlu berjamaah,” papar pria yang lebih dikenal dengan sebutan Aep Deet itu.

Sejak 1993, ia mulai mengaktifkan kembali pertanian organik, terutama setelah meneliti gulma yang dikenal dengan nama jajagoan. Tanaman itu tumbuh dengan sendirinya di sekitar padi. Tidak pernah ditanam, tapi tumbuhnya luar biasa. Tinggi dan akarnya menghujam ke dalam. Aep heran. Bagaimana bisa jajagoan bisa tumbuh dan berkembang seperti itu?

Dalam benaknya muncul tanya, apakah benar tanaman pengganggu makanan padi itu tumbuh subur karena bijinya satu dan tumbuh di permukaan? Maka dicobalah jajagoan itu ditanam dalam dengan jumlah banyak sekaligus. Ternyata pertumbuhannya berbeda dari biasanya. Lambat, mirip padi. Percobaan berbeda ia terapkan pada benih padi. Ditanam dangkal dengan satu benih. Hasilnya di luar dugaan.  Padi tersebut tumbuh berbeda. Tinggi dan mengeluarkan banyak anakan.

Setelah empat tahun meneliti serta melakukan uji coba dengan berbagai varietas padi dan membuahkan hasil yang sama, ia mulai berani mengeksposnya ke teman-temannya. Berbagi ilmu di forum-forum petani, sehingga diminta jadi pemateri di banyak tempat, bahkan pernah keliling ke 33 negara. Sejak itulah namanya lebih dikenal dengan sebutan Aep Deet. Dalam bahasa Sunda, deet artinya dangkal.

Atas keberhasilannya itu, ia sudah menerima puluhan sertifikat dan penghargaan. Terbaru, April 2017, Presiden Joko Widodo menganugerahkan Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan Bidang Ketahanan Pangan dan Pertanian, karena berhasil menemukan penanaman padi organik secara tandur tunggal dangkal yang menghasilkan lebih banyak anakan, lebih produktif, dan lebih banyak bulir per malai dibandingkan dengan tandur padi biasa.

Kini, ia dan rekan-rekannya tengah gencar mengajak para petani lain kembali bertani organik untuk merawat kelestarian dan menghadang perusakan alam yang dilakukan para pengusaha pupuk kimia.

“Caranya adalah kembali ke organik, dan itu sudah ditegaskan dalam Alquran. Silakan baca Quran Surat Al-A’raaf ayat 58. Itu dasar hukum dalam mengelola alam yang dibuat Mahkamah Rabaniah. Keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tandas Aep. [Jay]

 

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?