Jay | initasik.com
Peristiwa

Biasa Bayar Listrik Rp 300 Ribu Jadi Rp 1 Juta, Kebutuhan Siswa Terganggu

initasik.com, peristiwa | Sekjen DPP Gabungan Anak Jalanan (Gaza) Indonesia, Iim Imanulloh, memprotes keras keputusan Presiden Joko Widodo yang mencabut subsidi listrik bagi pelanggan 900 VA. Ia dan rekan-rekannya mendemo PLN Area Tasikmalaya, Jumat, 5 Mei 2017.

“Aksi ini sebagai bentuk protes kami terhadap dicabutnya subsidi listrik. Banyak masyarakat yang keberatan dengan keputusan itu. Nyaho ngabeledug we aing mayar gede pisan,” teriaknya dalam orasi.

Biasanya, kata Iim, ia membayar tagihan listrik tidak lebih dari Rp 300 ribu. Tapi, bulan kemarin ia harus merogoh uang Rp 1 juta. Berlipat-lipat. Itu sangat memberatkan. Pasalnya, tempat tinggalnya menyatu dengan lembaga pendidikan nonprofit.

“Kami punya sekolah yang semuanya digratiskan. Tidak ada biaya, termasuk untuk asrama dan makan. Itu khusus untuk masyarakat bawah. Dengan membayar listrik yang sampai Rp 1 juta itu membuat kebutuhan siswa tersendat. Jatah makannya terganggu,” tuturnya.

Sementara itu, Manajer PLN Area Tasikmalaya, Heru Purwoko, mengatakan, pihaknya hanya menjalankan tugas dari pemerintah yang menitahkan agar subsidi bagi pelanggan 900 VA dicabut.

“Tapi itu khusus untuk masyarakat yang dinilai mampu. Sedangkan bagi masyarakat prasejahtera, subsidinya tidak dicabut. Mereka tetap disubsidi, sehingga tidak akan merasakan kenaikan bayar listrik,” terangnya.

Dengan dicabutnya subsidi, maka angka tagihan jadi beban pelanggan. “Yang menentukan masyarakat mampu atau tidak mampu adalah tim nasional percepatan penanggulangan kemiskinan di bawah Kementerian Sosial. Kami hanya melaksanakan perintah,” tandasnya.

Menurutnya, jika ada pelanggan yang masuk pada kategori masyarakat prasejahtera tapi subsidinya dicabut, artinya bayar listrik jadi lebih mahal, disilakan lapor ke PLN untuk diproses lebih lanjut. [Jay]

Komentari

komentar