Istimewa
Edukasi

Bila tidak Membaca, Apakah Itu tidak Dosa?

initasik.com, edukasi | “Kita meyakini kalau membaca itu perintah Tuhan, seperti yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Sallalahu alaihi wasallam. Kita mengimani itu. Bila membaca itu perintah Tuhan, dan kita tidak melaksanakannya, apa itu tidak menjadi dosa?” tanya Dudu Abdul Rahman, guru SDN Perumnas Cisalak, Kota Tasikmalaya.

Karenanya, sejak 2010 ia bergerak untuk menanamkan budaya literasi kepada anak-anak. Salah satunya membentuk Pers Cilik SDN Perum Cisalak (Percisa) yang telah menerbitkan beberapa karya, seperti buku kumpulan puisi, cerpen, dan jurnal berjudul “Untuk Guru, Sahabat, dan Alamku”, kumpulan cerita, “Life to Share”, kumpulan Cerpen dan Jurnal, “Nyawa Bunga”, penggarapan buku 2 negara (National Dong Hwa University – Taiwan) “Di Negeri Sunyi” 2017, dan karya-karya lainnya.

“Proses kreatif itu adalah fase setelah membaca. Menulis merupakan proses kreatif setelah membaca buku. Memasak adalah proses kreatif seseorang setelah membaca buku resep makanan. Jangan berhenti di membaca. Harus ada proses kreatif yang dihasilkan dari membaca. Apapun itu,” terangnya.

Perjalanan selama tujuh tahun sejak membentuk Percisa, banyak hal yang ia rumuskan sebagai pijakan bergerak. Misalnya, ia sadar, gerakan literasi akan membumi jika diawali dari rumah. Setiap rumah harus mempunyai perpustakaan. Sederhana saja. Tidak perlu besar. Ada rak buku yang menyediakan bahan-bahan bacaan anggota keluarga.

“Ruang tamu rumah saya dijadikan perpusatakaan. Kita bentuk Rumpaka atau Rumah Pustaka Pers Cilik Cisalak. Rak bukunya dibuat semenarik mungkin, supaya anak-anak ada ketertarikan kepada buku,” ujarnya.

Menurutnya, “Percuma kalau kita bergerak di luar, tapi di rumah sendiri dan lingkungan sekitarnya tidak diperhatikan. Saya hanya menghadirkan dulu (perpustakaan), tidak melalui pendekatan menyuruh. Biarkan mereka tahu dulu kalau di rumah saya ada perpustakaan untuk warga.” [Jay]